Pamit

Mobil bekas yang sudah berumur belasan tahun itu akhirnya dimuseumkan. Museum itu gudang belakang rumah kakek lebih tepatnya. Setelah beberapa hari menjadi perbincangan hangat, Pak Sardi akhirnya angkat kaki  dan meninggalkan mobil rongsokan itu. “Aku sudah muak!” mentah mentah ia lontarkan nada kerasnya kepada kami semua. Pagi itu kabut berkelit diiringi tangisan pecah dari anak anak kakekku. Mobil rusak sekian tahun tiada satupun yang mau memperbaikinya. Pak sardi sudah lama tinggal dirumahku. Setelah kakek meninggal ia memutuskan menyerahkan jabatannya kepada Agung. Entah apa yang ada dibenak pak sardi saat itu membuatku seribu kali memutar kepala untuk membujuknya agar tetap tinggal.

“Pak, jangan begini. Kakek sudah lama mengenal bapak lebih dari kami mengenal kakek. Memangnya bapak tidak sayang dengan mobil itu? saya mah ogah kalau diberi sebagai buah tangan. Lagipula kakek meninggalkan mobilnya untuk bapak. itu amanah pak. Daripada disini menuhin ruang gudang,” tukasku.

“Ah, dasar cucu durhaka! aku tetaplah orang lain. Tak pantas kau berkata demikian. Mobil itu lebih dari sekadar sejarah. Bagaimana aku bisa menelantarkan begitu saja. Kau bodoh, Nak! pikiranmu lugu seperti cucu-cucu pak Rohman yang lain. Tak banyak yang kau tahu apa yang sebenarnya yang telah terjadi. Kalian terbiasa disuguhkan dengan perlakuan palsu dari orang tua kalian. Intinya aku sudah muak. Maaf bila ku sudah lancang tetapi aku pun merindukan keluargaku,” ujar pak Sardi.

“Perlakuan palsu apa? lantang sekali bapak. Aku tak suka orang tuaku direndahkan!” jawabku.

“Kau membela orang tuamu? lantas kau anggap apa kakekmu itu, Nak? aku tak mengerti dengan keluarga ini. Memang lebih baik aku tidak disini lagi,” ujarnya.

Pak Sardi pergi tanpa pamit pagi itu. Ia hanya membawa tas dua koper dan sebuah al quran yang ada di tangannya. Rumah kakek terasa hening saat anak- anak kakek satu per satu pulang dan enggan berkomentar. Aku sungguh tidak mengerti hari ini. Ada pihak yang terlihat geram dan memilih bungkam, ada yang senyum manis namun di meja makan ia menangis bahkan ada pula yang terlihat biasa saja tanpa kesedihan didalam matanya. Ada apa dengan kepergian kakek? mengapa aku tidak tahu? apalagi perlakuan palsu yang disebut pak sardi tadi? fikiranku hilang mengawang tak tentu arah dirumah ini. Lebih baik aku diam saja begini? tapi sampai kapan? kakek sudah tiada dan sekarang rumah ini milik siapa?

#bersambung…..

ibu

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s