#BC17 Cerita Pendidikan di Indonesia

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

topik ke-17 blogger’s challenges kali ini diusung oleh teman saya Wawa.Huaaa cerita pendidikan di Indonesahh? adalah beberapa kesan yang saya alami dan itu jadi masalah tersendiri bagi saya. Karena ini sifatnya cerita-cerita, jadi ga ada teori sama sekali yang akan memenuhi tulisan ini. Yuk kita mulai dari…

  • Pendidikan Teknologi Kadang Disalah gunakan

Kenyataan ini baru saya rasakan ketika waktu PPL tahun lalu dimana sekolah itu sebenarnya sudah memiliki komputer hanya saja ternyata komputer itu hanya sekadar teori di kelas ketika si guru menyampaikan materi. Setelah diluar itu, para siswa kenyataannya berkeliaran main facebook whahahaha. Ini juga ga sembarang lontar pendapat tapi kenyataan karena setelah saya pulang mengajar waktu itu, iseng buka facebook dan ga berapa lama muncul beberpa status siswa saya. Tidak ada yang salah sih sebenarnya kalau sepulang sekolah siswa bermain internet yang jadi permasalahan belajar komputernya baru bisa ms.word selainnya ga peduli amat dengan program di komputer lainnya, dan malah lebih mahir di media sosial. Padahal kalau dilihat dari segi manfaat, pengenalan perangkat komputer sangat berguna untuk masa depan si siswa di masa depan. Entah ingin bekerja di perusahaan harus pinter komputer, dimana-mana kalau mau ngelamar pekerjaan syarat yang dibutuhkan ga jauh-jauh dari yang namanya bisa menggunakan komputer. Media sosial juga bagian dari teknologi tapi kalau disalahgunakan ya miris. Karena tak jarang media sosial justru jadi ajang perkelahian atau selfie semata. Lebih lagi ketika pelajaran komputer berlangsung, yang ada malah main game bukan mengeksplor pelajaran yang udah dijelasin guru.

solusi: Seorang guru bisa memantau siswanya dari status facebook atau memantau keliling ketika selesai memberikan penjelasan 

  • Kepribadian Guru yang Suka Main Pukul

Nah, kalau soal kepribadian saya angkat tangan tapi serius ini beneran ada.Walau zaman udah modern, kadang tipe guru seperti ini tidak bisa dipungkiri selalu ada. Kadang masalah si siswa itu sepele tetapi justru si guru berlebihan walaupun ujung-ujungnya di giring ke kantor BP. Saya kurang setuju dengan sistem seorang guru yang main pukul yang berlebihan. Dalam hal ini yang digarisbawahi “berlebihan”. Kalau pukulannya itu pelan, hanya sekadar menepuk punggung dan tidak mencederai dengan tujuan untuk menegur ya sah-sah saja. Toh sekarang zaman udah kebalik. Dipukulnya pelan eh malah siswanya melebih-lebihkan  eh bilangnya dipukulin sama gurunya.

solusi: Pihak kepala sekolah langsung memproses guru tersebut atau siswa melapor ke orang tua bila sudah mengalami luka serius

  • Siswa Overacting Hingga Memukul Gurunya Sendiri

Kasus yang kemarin sempat booming antara guru dan siswa emang menjadi hantaman keras bagi seluruh guru Indonesia. Kronologisnya kira-kira begini: Kejadiannya di Makassar. Kejadian bermula ketika sang guru menghukum Alif Syahdan dengan cara menamparnya karena si murid telah mengeluarkan kata-kata kotor dan tidak sopan. Sang murid tersebut tidak terima perilaku guru tersebut dan langsung menelpon orang tuanya tersebut. Setelah kejadian tersebut berlangsung, Dahrul segera dilarikan ke RS Bhayangkara untuk menjalani perawatan dan juga visum.

sambungan dari point kedua kalau tadi pribadi gurunya ini mah pribadi siswanya. Zaman emang udah kebalik bukan? kalau udah begitu siapa yang disalahin? guru lagikah? yang di rumah siapa yang ngedidik? Pe-er besar buat para orang tua untuk mendidik yang benar itu ga mudah. Miris kan? yaudah perwakilan saya yang juga jadi calon guru semoga ga terulang lagi deh kasus seperti ini. Siswa akan selalu melihat apa yang ada di dalam rumah maupun karakter orang tuanya. Ketika didikan orang tuanya baik ya insya allah kelakuan anaknya juga baik.

Solusi: Siswa tersebut dipecat dari sekolah atau digiring ke kantor polisi, atau dari pihak sekolah mengeluarkan peraturan memberikan sanksi tegas bagi seluruh siswa yang berbuat kriminal.

  • Isi Buku Kadang Tidak Sesuai Dengan Kondisi Siswanya

Yep. Keadaan ini yang juga menjadi inspirasi saya ketika menulis tugas akhir saya di masa kuliah. Keadaan dari sebuah sekolah tertentu yang bermasalah dengan isi materi yang tidak sesuai menjadi keluhan tersendiri bagi si guru yang mengajar di sekolah tersebut. Terlebih lagi bila gurunya sudah kompeten, siswanya juga eh malah bukunya yang kurang sesuai. Pe-er juga sih bagi kepala sekolah untuk lebih peka memilih buku yang sesuai dengan standar nasional tapi juga melihat keadaan di sekolahnya. Tapi alhamdulilah sekarang sudah banyak penelitian pendidikan yang bisa membantu para guru untuk mencari referensi terkait materi pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan tetap mengarah pada kurikulum yang berlaku.

Solusi: pihak guru bisa memiliki materi sendiri yang sesuai dengan kurikulum tapi juga sesuai dengan siswanya bekerja sama dengan kepala sekolah terkait materi yang ada didalam buku tersebut.

Kesimpulan:

Pendidikan di Indonesia masih berkembang dan akan terus berkembang seiring dengan keebijakan menteri pendidikan yang baru pula. Pendidikan adalah fondasi utama dalam membangun negeri. Tanpa pendidikan, negeri ini mati tanpa penerang untuk menegakkan negeri di mata dunia. Tetaplah menginspirasi dan berjuang wahai para pahlawan tanpa tanda jasa. Gugus bintang negeri pertiwi demi para lentera negeri.

hadiknas

Advertisements

4 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s