#BC23 Alasan Untuk Hidup

Topik hangat yang dibahas anak-anak blogger’s challenges minggu ini berasal dari teman saya, mas boy, dengan topik alasan untuk hidup. Berbicara hidup, saya seperti dibawa ke dalam filsafat hidup saya sendiri. Topik yang sudah berhasil menguasai ide-ide abstrak saya selama ini untuk bisa menjadi rasional. Rasionalnya kurang lebih untuk merenungi sebenarnya untuk apa saya melakukan ini semua. Uraian saya nantinya mungkin akan terkesan naif kali ini tapi inilah yang disebut dengan persepsi kehidupan saya.

Aku adalah kertas putih

dari lembaran-lembaran yang tak bermuara,

aku adalah kertas putih

yang selalu dicabik-cabik oleh pena

Aku adalah kertas putih

hanya untuk meninggalkan nama (hierarki kertas putih, dwita sundari 2016)

Yep. Sejak kita dilahirkan di dunia kita seperti kertas putih. Suci dari dosa, begitulah kutipan-kutipan yang pernah saya dengar. Tapi setelah itu apakah menjadi kertas putih kembali? tentu tidak. Semua berbeda karena manusia dengan segala aktifitasnya tidak luput dari yang namanya kesalahan. Okee ini pengantar aja. Back to the topic, kegiatan yang selama ini kulakukan untuk apa? untuk siapa?

1. Aku dan Tuhan

Sebab dunia ini hanya sementara, kita tidak bisa melawan takdir bahwa bahwa kita akan mati.

Kalo kata ibuk, kita diajarkan belajar agama selama ini bukan hanya penanda kalau kita masih punya iman, tapi memahami bahwa kita hidup di dunia tidak selamanya, sebab Tuhan menciptakan kita tidak sia-sia. Maka dari itu ketika bersinggungan dengan keyakinan saya merasa bahwa ada tanggung jawab yang tersirat yang harus saya sadari setiap waktu bahwa saya hidup di dunia untuk membekali apa yang akan saya bawa ketika mati. Jalannya juga ga mudah tapi dengan segala doa dan usaha yang telah saya lakukan selama itu tidak melenceng dari agama dan tidak berbuat kerusakan saya rasa Tuhan sedang tersenyum melihat saya. Keyakinan dengan khayal tingkat tinggi itulah yang menjadi alasan saya untuk selalu bisa menghargai waktu di kehidupan saya.

2. Aku dan Makhluk Sosial Lainnya

Aku sadar aku tak mampu hidup sendiri maka orang-orang adalah wadah terbaik untuk mencari arti hidup

Orang tua saya pernah bilang berhati-hatilah kalau kita sudah sering beranggapan kita bisa sendiri tanpa orang lain karena bisa jadi kamu sedang sombong pada diri sendiri. Fyi, Terkadang saya merasa takut merepotkan orang lain hingga memutuskan untuk melakukannya sendiri itu lebih baik karena pada saat itu kita tak menemukan orang-orang yang bisa diandalkan. Tapi ternyata perkataan orang tua saya ada benarnya karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa terus-terusan mengandalkan dirinya sendiri saja. Membangun relasi dengan orang-orang sekitar lalu bercengkerama dengan mereka itu cukup mnyenangkan selama ini karena rame itu menyenangkan. Hanya saja ketika situasi individu saya menyerang, saya memilih diam-diam melakukannya atau tidak menghubungi teman-teman saya terlebih dahulu hehehe.

3. Aku, Ayah, Ibu dan Kakak

Mereka adalah penjagaku di dunia yang Tuhan berikan, sebab itu akupun ingin menjaganya.

Ga ada tempat ternyaman selain kembali ke keluarga. Ayah, ibu dan kakak selalu menjadi salah satu alasan terbaik mengapa saya hidup sampai sekarang. Setiap melakukan sesuatu hal, saya selalu berusaha untuk menyenangkan mereka meskipun tak jarang gagal. Di dunia ini banyak yang bisa kita lakukan untuk menyenangkan hati mereka secara sederhana. Contoh ketika kita berada diluar kita coba ingat kalau di rumah masih ada kakak atau ibu saya sempetin tuh beliin makanan , ya dengan catatan keadaan lagi kaya hehe. Tapi dari hal sederhana tersebut saya mengerti sekarang kalau kita masih membutuhkan mereka dan kita merasa mereka yang patut dibahagiakan dan dijaga. Karena itulah hidup ini terasa berguna bila kita bermanfaat juga demi mereka.

4. Aku dan Masa Depan

Masa depan dan segala rahasianya adalah investasi untuk kehidupanku sekarang.

Masa depan saya sekarang di negeri antah berantah haahahaha. Gimana enggak, kan masih rahasia ilahi. Tapi yang pasti masa depan itu yang menjadi alasan saya terakhir untuk bisa terus tetap hidup. Hal ini terinspirasi dari beberapa kejadian hidup yang telah saya lewati sehingga harapan untuk masa depan sangat jelas saya impikan. Tidak banyak orang yang selalu optimis akan masa depannya sendiri tapi yang pasti saya cukup antusias dengan masa depan saya sendiri. Tulis-tulis impian terus doa sama Allah diberikan jodoh yang baik, baik akhlaknya baik agamanya, cerdas pula. Belum lagi impian-impian lainnya seperti punya keluarga yang bahagia, anak-anak yang cerdas dan baik  hingga punya usaha yang maju sampai hari tua yang sering saya ukir sendiri didalam imajinasi saya. Orang bilang jangan terlalu berharap nanti ketika ga kesampaian akan terasa sakit sekali, tetapi justru bagi saya harapan itu adalah sinyal bahwa saya adalah makhluk hidup. Ga ada yang ga mungkin begitu pula dengan harapan dan doa. Saya percaya Tuhan tak pernah kehabisan cara untuk mengabulkan harapan dan doa yang tulus. Trust it!

Hari ini adalah peristiwa. Besok adalah misteri. Maka hidup seterusnya akan selalu tentang bagaimana. Bagaimana kau mengungkapkan, menjalani hingga berserah diri. (dwita sundari, 22 thn)

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s