Saya, Pak Polisi dan SIM

POLISI

Ada segelintir cerita menarik yang saya alami akhir-akhir ini. Untuk catatan kali ini, saya mengkhususkan catatan ini dalam kategori catatan pribadi karena ini terinspirasi dari kisah nyata haha. Akhir-akhir ini selain disibukkan dengan bab akhir saya juga disibukkan dengan pengurusan SIM yang akhirnya hanya Allah dan pak polisi yang tahu. Lah, kok gitu wii?”

Jadi, udah hampir sebulan saya berlenggak-lenggok di kantor pengurusan SIM , yakni sebut saja kantor poltabes. Kalau mampir ke kampus siang, pagi nya pasti ke kantor polisi. Semua itu saya lakukan demi kewajiban. Pertanyaan demi pertanyaan muncul dari teman terdekat pun tak terelakkan. “Kok baru sekarang kau ngurus? ih, lamanyaa hampir sebulan ga kelar juga. kok ga pake calo aja? ih, capek kali kau bolak-balik, gabisa kau minta tolong saudaramu gitu?, begitulah pertanyaan demi pertanyaan tersebut. Saya cuma bisa jawab kalau saya emang benar-benar ga mau ambil resiko. Masalahnya adalah penggunaan jasa calo justru udah banyak yang ketipu. Ketipu gimana? ketipunya pada saat pembayaran pengurusan SIM. Fyi, biaya asli pengurusan SIM itu tergolong murah dan standar sih menurut saya, untuk pengurusan SIM C 100 ribu rupiah, itu mencakup dinyatakan lulus dan tidak lulus selama proses pengujian dari 3 tes yang harus diikuti. Kalau lulus ya selesailah buat SIM, tapi kalau ga lulus ga bayar lagi, tapi harus ngulang ujian nunggu waktu yang udah ditetapkan oleh petugas. Sementara bayangin deh kalau kita gunain jasa calo, justru harganya bisa dua kali lipat dan tiga kali lipat atau sekitar 400 atau 500 ribuan. *dalam hal ini calonya bukan anggota keluarga. Kalo anggota keluarga ya sah-sah aja kita percaya, tapi konteksnya disini adalah orang lain. Ga ada yang bisa ngejamin capable kita di jalan raya, malah buntung. Mending yang banyak uangnya bisa bayar segitu banyak berkali-kali lipat dari administrasi aslinya. Lah kalau orang biasa seperti saya, apalagi mahasiswa, masih minta sama orang tua ataupun kerja sampingan gajinya juga ga seberapa, mana tahan. Mending uang tersebut digunain untuk biaya makan berapa hari atau biaya ngeprint skripsi*eh. Well, seputar pengurusan SIM alias Surat Izin Mengemudi sebenarnya sudah menjadi kewajiban bagi pengendara kendaraan, baik itu kendaraan roda empat atau roda dua. Tapi semenjak pemerintah memberlakukan pelarangan untuk menggunakan jasa calo, orang-orang yang saya lihat semakin banyak saja yang mondar-mandir ke kantor polisi. Dari segala usia dan dari segala generasi hahaha lebay 😀 tapi serius, kantor poltabes mendadak jadi tempat favorit masyarakat akhir-akhir ini.Tes nya ga banyak tapi saya akui sulit. Kalau dulu zaman emak ngurus SIM, ada sistem SIM keliling, SIM pake calo dan lain-lain tentu beda dengan orang-orang yang ngurus SIM asli ga pake calo-caloan. Dengan kata lain, ikut tes kompetensi langsung dan ikut ujian prakteknya. Trus bedanya gimana? bedanya kalau yang pake calo dengernya sih ga ikutan tes praktek lagi, atau ga ikut ujian kompetensi teori lagi.

Nah, cerita menarik lainnya yang melatarbelakangi tulisan ini sebenarnya berawal dari saya dan pak polisi. Udah tiga kali kenak tilang dan itu buat saya trauma haha. Karena kapok jadi saya pun berinisiatif untuk ngurus SIM secepatnya. “Gamau ambil resiko dan untuk kebaikanku juga,” itulah yang terpikir dalam benak saya saat itu. Berbagai tawaran pun datang semenjak saya memutuskan untuk mengurus SIM tapi akhirnya saya memilih mengurus sendiri HA HA HA dan ga nyangka juga orang tua saya mengapresiasi tindakan saya karena memang mengurus sendiri itu lah yang seharusnya. Ikuti aja prosedurnya, nikmati ujiannya, mau sulit atau mudah yang penting pengalamannya,” begitulah nasehat dari orang tua saya.

Setelah diberi nasehat, cus langsung deh ke kantor pak pol dan mengikuti prosedurnya satu per satu. Mulai dari tes kesahatan biayanya 25 ribu, lanjut  registrasi pengurusan SIM dan 3 tes yang diikuti. Nah kalau yang ini biayanya variasi. Kalau untuk biaya pengurusan SIM C, 100 ribu rupiah, SIM A, SIM B beda lagi. Ada juga perpanjangan SIM pun biayanya beda lagi. Jadi emang benar-benar sudah terstruktur. Lanjut habis biaya registrasi, isi formulir dan diserahin ke petugas bagian data si pemohon SIM. Selanjutnya cetak foto. Asli yang ngantri juga ga satu dua orang tapi puluhan per hari. kok tau? nanya dan ngitung haha kurang kerjaan karena bosan ngantri saat itu. Minggu pertama saya datang akhir november untuk melakukan pembayaran registrasi, penyerahan hasil tes kesehatan dan cetak foto hingga ujian teori. Setelah cetak foto, saya langsung diarahkan seorang petugas untuk mengikuti langsung ujian teori dan masuk ke sebuah ruangan yang disebut dengan ruang pencerahan. Awalnya sempet bingung, nih ruang pencerahan maksudnya gimana, kok kesannya kayak ruang tahanan atau ruang pemulihan wkwkwkk. Tapi ternyata yang saya maksud justru meleset. Ruang pencerahan tersebut ternyata maksudnya ruang yang dikhususkan untuk peserta ujian teori yang akan mengikuti tes online dan disediakan buku panduan semacam kisi-kisi soal dan petunjuk pengendara di jalan raya yang seharusnya dan bukunya juga namanya buku pencerahan. Bukunya sih lumayan tebal, setara lah dengan buku tes-tes cpns atau tes SNMPTN dan kebayang yang baca itu siapa? bapak-bapak, ibu-ibu, anak muda seumuran saya atau diatasan saya. Lah mending yang anak muda masih fresh ingatannya, kalau ibu-ibu rumah tangga dan bapak bapak yang usianya sekitar 50 an udah muali menurun daya ingatnya? that’s the problem. Akhirnya terjadilah diskusi kecil-kecilan yang terjadi diantara kami haha. Emak-emak yang bingung gas emisi itu apaan akhirnya nanya ke kami yang masih muda, jalan slalom, jalan u-turn itu maksudnya gimana. Emang sih penjelasannya sudah ada di buku tersebut, tapi yang namanya orang tua tentu daya pahamnya beda-beda. Kalau bapak-bapak atau ibu-ibu kantoran mungkin tahu istilah ilmiah begituan tapi yang nanya ini mah ibu-ibu yang sering dagang sayuran di pasar, yang ngurus anaknya di rumah yang mungkin sekolahnya ga sampe kuliah. Karena jujur aja, saya juga kurang tau kalau ga baca buku hahahaha.

ketika tes teori…

Nah, untuk kali ini, bagian tes teori dipanggil satu per satu. Tes nya online dan menggunakan sistem komputer. Soalnya ada 30 dan harus diselesaikan dalam waktu 15 menit. pilihannya utnuk tes pertama saat itu ada 4 pilihan, lalu ketika tidak lulus, mengikuti tes yang kedua pilihannya jadi 3 pilihan dan kalau ga lulus kedua kalinya , ujian ketiga 2 pilihannya. jadi bisa ketebak kan saya udah ngikuti tes teori yang keberapa hahahaha. Seputar soal, tingkat kesulitannya macem-macem cyiin. kalau awal tes, saya akui sulit dan itu terbukti karena ga banyak yang lulus. Soalnya tipe nya gimana? macem-macem. Mulai dari standar kereta, knalpot, kendaraan roda tiga, truk, sepeda motor hingga mobil roda empat, rambu lalu lintas, pemarka jalan dan aturan-aturan lainnya yang jarang kita dengar. Sampai di tes terakhir yang saya ikuti tipe soalnya kebanyakan tentang etika berkendara di jalan dan itu tergolong mudah bagi saya. Alhamdulilah akhirnya tes ini berkahir juga.” senyuman lebar saya pun terpancar ketika keluar dari ruangan ujian hehehee

Ketika tes praktek…

Nah, tes terakhir sekaligus penentuan untuk SIM kita adalah tes praktek. tes praktek ini pun ada dua tipenya. Tipe pertama tes menghalau jalan yang berbentuk jalan yang berbentuk angka8, u- turn dan jalan zig zag. Lanjut tipe kedua adalah tes pengereman dan tes keseimbangan yang berbentuk jalan sempit yang lurus. Tak lupa sebelum saya mengikuti tes praktek tipe pertama, saya diharuskan untuk mengisi formulir kembali yang sudah disediakan oleh petugas khusus peserta ujian teori dan tipe SIM yang diajukan. Setelah registrasi, saya diahadapkan dengan dua tipe sepeda motor, sepeda motor matic atau manual alias bertipe gigi. Dalam hal ini peserta bebas memilih sepeda motor tipe yang mana, ya tentu sesuai dengan kendaraan pribadinya. Setelah saya dipanggil saya pun mulai mengambil sepeda motor matic yang disediakan. ya disesuaikanlah dengan tipe sepeda motor saya dan ketika start, saya memulai dari jalan yang berbentuk angka 8 dan ga banyak penghalaunya. Kita hanya ngikutin tanda panah hingga akhir. Lanjut setelah melewati jalan angka 8 eh ketemu jalan zig zag yang berakhir dengan tikungan mati nan sempit. Penghalaunya begitu dekat dengan ruang jalan yang diberikan sehingga kaki saya pun terjatuh menginjak tanah. Ujian dikatakan berhasil kalau kita tidak menabrak penghalau dalam posisi kaki tetap stay di sepeda motor. Karena udah nginjek tanah otomatis ngulang lagi hahahaha. Alhamdulilah saya bersama puluhan orang ternyata yang gagal karena yang baru berhasil baru dua orang itupun laki-laki wkwkwkk. Demikian pengalaman saya dan SIM. Saya harap semoga pembaca yang hendak mengurus SIM bisa menagkap gambaran dari tulisan saya dan bagi yang belum punya SIM, penulis saranin deh coba aja. Seru sih saya katakan karena pak pol bilang lebih baik kita gagal disini daripada gagal di jalan raya. Kebayang kan kalau gagal di jalan raya maksudnya. Bisa kecelakaan atau mungkin bisa kenak tilang. Tidak lain dan tidak bukan adalh demi kebaikan diri kita sendiri karena pada dasarnya bila kita mengikuti peraturan yang berlaku tentu kita pun mengurangi pula yang namanya masalah di jalan raya. Insya Allah

blog-pak-polisi2

*foto oleh Google

Iklan

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s