#Bc24 Karir atau Ibu Rumah Tangga?

Holaa readers! Topik minggu ini yang mengisi blogger’s challenges adalah menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga. Seputar topik ini, saya sedikit mandet ide untuk menjabarkan apa yang menjadi gagasan saya untuk menuliskannya. Sebenarnya pertanyaan seperti ini sudah saya pikirkan jauh-jauh hari sebelum teman saya, Wawa mencetuskan topik ini hehe. Tapi karena seperti ini bersifat pribadi saya justru ogah membahasnya lebih lanjut secara terbuka hingga akhirnya teman saya akhirnya mengeluarkan ide seperti ini. Oke skip basa-basinya, langsung aja deh ke topiknya.

Catatan terbuka dari seorang wanita berpendidikan strata 1

Seputar karir, saat-saat sekarang adalah masa yang begitu luas untuk saya mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Kalau dibilang berkarir, sebenarnya sudah belajar berkarir saat-saat sekarang, mengajar siswa di sekolah ataupun di tempat les. Memang konteksnya tidak di kantor tapi tetap saja itu dilakukan di luar rumah. Walaupun mengajar siswa di sekolah hanya sebatas guru pengganti sementara tapi tetap pernah saya lakukan dan itu menyenangkan. Ditambah lagi jurusan kuliah saya yang memang mengarah kesana jadi ya lurus-lurus saja menjalaninya. Selain menjadi guru pengganti sementara, saya juga mulai mengajar les privat sejak kelas 3 SMA terus yang diajarin siapa? anak orang, karena gapunya adik atau sepupu waktu itu yg bisa diajarin jadi yang bisa saya ajarkan waktu itu bahasa Inggris. Ya hitung-hitung nganggap seperti adik sendiri. Gatau sih alasan ibu itu nyerahin anaknya untuk diajarin sama saya tapi katanya waktu itu dia tahu saya sering juara di kelas dan bahasa Inggrisnya bagus saat itu. Itu versi si ibuk, lah dari saya nganggapnya biasa aja hahahaaha. Semenjak ngajari anaknya lanjut saya ngajar di awal perkuliahan, sampai pertengahan kuliah. Karena udah kebiasa jadi ngerasa nyaman aja sih ngajarin anak orang dan memang ilmu yang di dalami juga berbau pendidikan ya lanjut terus. Tapi yang menjadi pertanyaan apakah saya akan melanjutkan profesi saya setelah saya menikah? Pertanyaan yang membuat saya bingung, memikirkannya sampai bermalam-malam kalau dilanjutkan hingga akhirnya menemukan jawabannya.

Jawabannya: Aku tetap bisa melakukannya tanpa harus meninggalkan rumah

Dear my future husband, siapapun kamu, aku bersyukur atas kehadiranmu dan sebelumnya terima kasih jika kamu nantinya akan melamarku. tapi yang perlu kamu ketahui adalah sekalipun aku mengemban peran sebagai seorang guru, aku tetap memilih sebagai ibu rumah tangga. Pekerjaanku tidaklah harus meninggalkan rumah, tidaklah harus meninggalkan kamu ataupun anak-anakku. Ketika aku memutuskan mengarungi bahtera rumah tangga, aku harus tahu diri aku ini wanita seperti apa. Ketika menikah maka semuanya telah berubah, hidupku bukanlah prioritas untuk diriku. Keinginanku haruslah setara dengan kewajibanku. Meski banyak pendapat bahwa aku tentu bisa merangkap karir sekaligus rumah tangga, tapi yang paling menyentuh hatiku sebenarnya adalah bahwa aku harus di rumah. Aku harus menjaga titipan Allah semampuku. Rumah tangga dan anak-anak yang cukup perhatian adalah yang terbaik dari segala kondisi, meski suatu saat kamu mengizinkanku pergi untuk melampiaskan manfaat studiku, aku tetap memilih rumah sebagai tempat terbaik. Itu bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan rumah. Pola pikirku yang telah terlanjur mengemban pendidikan strata satu lantas tidak membuatku menjadi wanita berambisi dalam mengelola segalanya. Aku tahu kamu mampu diluar sana. Tugasku mendidik apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabku, apa yang seharusnya aku didik. Melihat mereka bangun tidur lalu pergi tidur aku rasa belum tentu aku dapatkan ketika aku meninggalkan rumah. Dear my future husband, profesiku bukanlah memprioritaskan segalanya berawal dari luar, tapi justru membina dari dalam. Entah kubuka sekolah bersama di pekarangan rumah, mengajar les tambahan atau membuat sebuah kelas kecil terhadap suatu anak dengan bidang tertentu. Beragam bisnis rumahan juga menarik hatiku asalkan tidak meninggalkan rumah. Karena menjadi guru adalah sebuah amanah, tidak bisa dilakukan cukup sekali atau dua kali. Maka yang dapat kuusahakan sekarang adalah mengumpulkan pengalaman dan pundi-pundi rupiah hingga aku menemukanmu, kuharap kamu dapat memaklumi keputusanku.

Catatan terbuka yang saya tulis diatas adalah mewakili hati dan pikiran saya untuk topik kali ini. Jadi udah bisa dapet kesimpulan kan saya memilih apa hehehe. Terinspirasi dari teman saya wawa, entah kenapa saya begitu tertarik berinisiatif menuangkannya dalam bentuk catatan terbuka hehehe. Semoga tulisan saya kali ini bisa memenuhi tantangan kali ini. Big thanks to wawa yang sudah mencetuskan topik tentang ini dan terima kasih untuk para pembaca yang sudah mampir membaca.

gambar-dp-bbm-ibu-rumah-tangga-03

Iklan

10 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s