#Bc33 5 Pertanyaan Horor Yang Sering Kufikirkan

Halo readers, Bloggers’ challenges return. Topik kali ini berasal dari teman saya, Arif yang dicetuskan 2 minggu yang lalu. fyi, saya begitu berat menuliskan tentang topik ini. Muter-muter keliling kamar, masuk-keluar kamar dan yang telintas itu awalnya hanya 1 sementara harus 5. Maka terjadilah uring-uringan sendiri wkwkkk. oke skip skip

Jadi setelah difikir-fikir selama dua minggu, ternyata pertanyaan horor yang sering terlintas di fikiran saya itu cukup beragam. Kenapa horor? karena setiap fikiran itu datang, kadang saya hanya diam membisu, tak berkutik bak jumpa setan, ya ampun -.-. Tapi karena teman-teman ada yang ngasi 5, ya diikutin aja deh hehe. 5 pertanyaan itu biasanya muncul di malam hari. Sebelum tidur kebanyakan merenung alhasil horor sendiri hii. Berikut pertanyaannya.

#Question 1 : Mengapa Aku Sering Berbeda?

Pertanyaan menohok yang sering kufikirkan pertama kali adalah mengapa aku sering berbeda. Berbeda disini sisinya beragam. Mulai dari argumen, pemikiran hingga karakter. Loh tapi bukannya tiap manusia punya ciri khasnya tersendiri ya? iya bener, hanya saja konteksnya disini saya berada di suatu lingkungan atau ruang lingkup pertemanan yang hampir semua berkarakter sama. Contoh ketika saya melakukan test psikologi yang pernah di share oleh teman saya Wawa, hasil dari teman-teman saya satu atau dua yang sama sesama mereka, sedangkan saya? kontraaassss. Contoh lainnya saya justru memiliki banyak teman bertipe introvert tetapi gitu ngetes diri sendiri eh kebalikan. Emang sih itu bisa diubah kalau kita mau berusaha mengubahnya tapi saya pun tak bisa memungkiri bahwa ternyata saya sering masuk ke zona yang berbeda. Untungnya bisa bawa diri hehe. Kalau soal argumen, ketika saya melihat banyak suara mayoritas ataupun pendapatnya mirip-mirip, saya cenderung diam meskipun saat itu fikiran saya berbeda. Entah kenapa gapinter berdebat dan gampang pasrah  hingga prinsip “aku oke aja” pun tercipta hehe. Maafkan saya huhu. Trus contoh lain pernah pake tangan kidal dan kalo ngomong sering banget kebalik kalimat atau katanya. Diejein ada kelainan. Walaupun hanya satu atau dua kegiatan. Alasannya saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya hanya saja ketika pake tangan kanan saya merasa kesulitan saat itu. Sejak itulah saya berusaha keras untuk menggunakan tangan kanan saya di setiap kegiatan saya. Soal kalimat maupun kata ketika saya berbicara sudah mulai berkurang dibandingkan dengan yang dulu walaupun kadang pas ngajar murid sering cengengesan sendiri denger saya ngomong kebalik kalimatnya.

#Question 2 : Berapa Lama Aku Hidup?

Pertanyaan tingkat dewa. Saya tidak tahu kenapa setiap ingin tidur yang terlintas, “Besok saya masih hidup gak ya? terus besok ngapain?” pertanyaan seperti itu emang menguras fikiran maka itu saya sering kagum ketika melihat ada orang lain berfikir seperlunya karena rasanya saya sulit melakukannya. Saya benar-benar tidak tahu akan jadi apa saya kalau besok saya ga di dunia lagi. Impian saya mungkin sampai hari ini saja, tinggal cerita tapi alhamdulilah sampai detik ini saya masih diberi kesempatan sama Allah untuk tetap hidup. Hal itu pula yang mendorong saya untuk selalu berusaha melakukan yang terbaik. Memperbaiki hidup hingga memperbaiki diri.

#Question 3: Siapa Jodohku?

Terinspirasi dari karya Ahmad Rifa’i Rif’an, Ya Allah Siapa Jodohku, ini menjadi pertanyaan yang entah kapan terkuak. Sebagai wanita normal, saya tidak memungkiri bahwa keinginan untuk menikah lalu berumah tangga benar-benar di depan mata. Bukan berarti kebelet nikah, hanya saja ketika orang-orang mempertanyakan status saya, yang ada bingung sendiri. Banyak ngelesnya hehe. Katanya pertanyaan seperti ini begitu dihindari bagi orang-orang tertentu namun bagi saya sekarang ketika ditanya seperti ,”Udah punya pacar?”, saya jawab ,”maaf saya ga pacaran.” Trus kalau ditanya lagi, “Udah mau wisuda udah ada calonnya? saya jawab, “Wisudanya aja dulu, calonnya belakangan.” Trus kalau ditanya lagi,”Udah punya penghasilan nih ceritanya, calon suaminya dapet?” saya jawab, “Gamau turun dia dari langit, gimana dong.” Pada akhirnya, “Permisi bapak, ibu, nyonya,tante,encing, teteh, cece, mbak, adik, saya mau terjun bebas aja.”

#Question 4: Apakah Aku Terlalu Baik atau Terlalu Bodoh? Mengapa Harus Terlalu?

Yap. Saya sedikit risau dengan kata terlalu. Makna terlalu itu berlebihan dan begitulah adanya. Lagi-lagi ini soal perasaan. hmm. Ketika dihadapkan situasi tertentu, saya sulit mengatakan enggak tapi gitu bilang enggak, meleleh sendiri. Alhasil ngebohongin perasaan sendiri ya allah -.- . Ini buruk. Saya akui ini sangat buruk. Contoh ada orang yang baru saya kenal dan minta tolong rasanya bilang enggak itu gatega. Walaupun hati ragu tetep aja dilakuin. Contoh lain ketika ada yang pinjem barang, “Udah la gapapa kan minjem, nanti balikin ya.” Eh gadibalikin sekali, trus gitu balik rusak. Yaudalah mungkin khilaf. Sabar.

Contoh lainnya adalah pengalaman percintaan saya sendiri. Yap, saya fikir dan kadang terlintas di fikiran lagi, “Udah tau disakitin tapi masih aja mau. Udah tau dia ninggalin masih aja mau.” Sedih aja sih kalau ada orang bilangin saya begitu. Saya juga gamau begitu kok hanya saja saya sulit untuk menghilangkan rasa itu segera. Saya pernah mendengar dari teman saya kalau baik dan bodoh itu kadang ga ada bedanya. Walaupun itu sebenarnya soal logika dan hati hmm. Kebayang kan kalau pake terlalu lagi. Itulah yang saya fikirkan. Terlalu alias berlebihan itu nggak baik dan sayangnya itu pula yang terlintas di fikiran saya.

#Question 5: Apakah Aku Berarti?

Apakah aku berarti buat mereka? apakah aku berguna? apakah mereka masih menganggapku ada?

Menjalani kehidupan di tengah-tengah keanekaragaman cerita, saya tak memungkiri kalau perasaan tidak dianggap, diabaikan, bahkan tidak dihargai itu pernah. Maka dari itu ketika saya mendapati keadaan itu, yang saya fikirkan  apakah saya berarti buat dia ataupun mereka. Saya tidak tahu mengapa pemikiran ini terlintas hanya saja ketika pertanyaan itu mengiang di atas kepala, tentu saja sedih namun yang namanya pertanyaan seperti itu bisa datang kapan saja ketika lagi sedih. Kita gapernah bisa paham dengan pemikiran orang lain tetapi sebaik kita menyadari kita sudah melakukan yang terbaik, kita cukup bisa meyakini diri sendiri kalau suatu waktu itu berubah. Pada akhirnya pertanyaan seperti ini terjawab dengan sisi pemikiran yang lain:

Apapun penilaian dan perlakuan orang, yang penting Allah sayang.

Kalimat tersebut saya maknai seperti: kita melakukan apapun demi orang lain yang terbaik, tidak peduli bagaimana orang lain memperlakukan kita setelahnya; kalau Allah sayang dengan perbuatan kita itu lebih berharga dari apapun. Bagaimana agar Allah sayang? ikhlas melakukannya. Inti dari jawabannya hanya ikhlas.

Thanks to Arif yang sudah memberikan topik ini. Tantangan ke-33 selesaiiiiii.

Iklan

7 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s