#BC36 My Comfort Zone

Bloggers’ challenges return

Topik ke-36 yang akan saya bahas kali ini tentang comfort-zone yang diberikan oleh teman saya, Nadya. Berbicara soal comfort-zone, tentulah isinya berkaitan dengan hal-hal yang kita cintai dan kita nikmati. Kalau bahasa lainnya, surgamu, ranahmu atau surga duniamu. Hmmm versi comfort-zone saya gimana yaa??

Comfort-zone #1: Tiduran sambil dengerin curhatan orang via telpon atau media sosial

Keadaan yang pertama yang hampir tiap minggu ga pernah ga ada itu, ya kegiatan begini. Kalau ada yang bilang ga ada kerjaan dengerin curhatan orang, saya udah senyum-senyum saja. Alasan saya sering melakukan ini adalah karena waktu SMA pernah buka kotak curhat ala-ala anak SMA dan isinya curhatan alay semua. Meski begitu saya sering menampung cerita mereka itu hanya untuk menjadi inspirasi dari tulisan-tulisan saya yang ga kalah alay nya. Bisa dibayangin kan sperti apa kalau dibaca wkwkk. Nah karena udah terlanjur menkmati kegiatan seperti itu, jadi deh awal kuliah sampai sebelum PPL kadang ada aja tuh yang dibahas. Curhatan orang ternyata ga soal cinta-cintaan, kebanyakan soal ekonomi wkwkkk. Tapi apapun topiknya, saya selalu tertarik mendengarkan curhatan temen-temen saya ya walaupun ga jarang akhirnya sampai ngantuk-ngantuk pun masih ngebahas.

Comfort-zone #2: Nulis Karya Fiksi

Zona ternyaman yang kedua adalah nulis karya fiksi. Kenapa harus karya fiksi? karena saya telah jatuh cinta dengan puisi sejak lama uhuk. Semenjak berkenalan dengan dunia tulis-menulis, saya tertarik menulis karya fiksi selain puisi, cerpen contohnya. Ketika udah ketemu dua hal ini, kadang lupa dengan tugas kuliah, apalagi baca hal-hal diluar dari ini hehe. Selain itu, karya fiksi juga bisa mempertajam imajinasi saya untuk membuat sebuah cerita yang berkesan dan penuh makna. Sampai sekarang, kalau udah nulis hal-hal seputar karya fiksi selalu diusahain diselesaikan walaupun ga semua di publish. Jadi kalau ada tantangan nulis di luar karya fiksi bukannya gabisa tapi biasa aja nganggapnya, ga jadi prioritas hehe

Comfort-zone #3: Ngajar Pelajaran Bahasa Inggris

Awal masuk kuliah, nganggap pelajaran bahasa Inggris itu biasa aja tapi karena terbiasa dengan materi kuliah yang berhubungan dengan bahasa Inggris, lama-lama nyaman hehe. Tapi bukan berarti ga pernah ngalamin keluar dari zona nyaman. Kejadian yang tidak menyenangkan pertama saya alami ketika PPL saat teman saya dari jurusan yang berbeda berhalanga untuk mengajar karena kondisi badannya yang nge drop. Kebetulan yang ia ajarkan adalah fisika dan saat itu temannya satu fakultas juga mengajar di kelas yang berbeda. Karena saya yang jaga piket, mau tidak mau saya harus masuk ke kelas teman saya dan perang dunia dimulai. Materi kelas 3 tentang vektor dan saya cuma bisa ngeliatin lks mereka dengan tatapan kosong. Gatau kenapa blank aja saat itu dan akhirnya cuma bisa bilang, “Kerjakan aja lks kemarin yang belum selesai ya anak-anak, ntar kita diskusikan lagi.” Jadilah setelah itu mereka bkerja dan puncak perangnya ketika salah seorang siswa di kelas itu bertanya soal materi mereka. Jleb. Dia bersikeras ingin dijelasin karena dia masih tidak paham. Drama konflik di kelas itu berakhir setelah teman saya datang dan membatu saya untuk menjelaskannya. Deg-degan? Iya. Jera? biasa aja tapi kalau untuk ganttin di luar pelajaran bahasa Inggris bakal mikir panjang semenjak setelah itu wkwkwkk.

Comfort-zone #4: Ditraktir Cowok

Saya mengakui sebagai seorang wanita, hal sederhana yang membuat bahagia dan menjadi zona ternyaman ketika berhubungan dengan kaum adam adalah mereka rela hati membayar makan wkwkwkk. Eitts, bukan berarti udah jadi zona nyaman trus suka-suka setelah itu dan tiap ketemu atau jalan ditraktir terus. Hoax itu mah. Gimanapun mau itu suami, mau itu temen cowok atau sahabat yang berjenis kelamin laki-laki ktika mereka nraktirin, nah saya justru merasa bersalah. Kalau soal suami gatau deh gimana ntar sama suami karena belum pernah ngalamin, mungkin lebih enak kali ya di traktirin wkwkkk tapi kalau sama yang bukan suami ya ngerasa bersalah dong. Ngerasa bersalah gimana wii? ngerasa bersalah karena dia udah bela-belain nraktirin demi kita yang bukan saudaranya atau orang tua nya. Baik banget kan ya udah nraktirin. Nah itu yang jadi pertimbanagn saya,  sejujurnya setelah pulang ketika saya sering ditraktirin sama yang bukan saudara atau ortu itu ngerasa bersalah. Ya akhirnya kalau ketemu dan pas lagi ada, gantian deh hehe walaupun ga sering. Dijamin deh kalau wanita punya rasa bersalah mereka juga senang kok. Hayoo yang cowok ngaku….

Comfort-zone #5: Kemana-mana Pake Kendaraan Pribadi 

Keadaan yang terakhir ketika saya diajak bepergian dan inisiatif untuk sekadar cari angin. Udah ngerasain gimana suka dukanya naik transportasi umum tapi ketika udah beralih ke kendaraan pribadi itu jauh lebih nyaman dong ya. Nah masalahnya tidak selamanya kendaraan pribadi itu buat nyaman. Kita gapernah tahu hal mengejutkan apa yang bakal kita terima di jalan. Kadang ban kempes karena bocor, macet lah, mesin mendadak mati, dan sebagainya. Salah satu kekurangannya seperti itu namun itu tetep bisa diantisipasi kok karena kendaraan pribadi kita yang tahu hehe.

Sekian topik tentang Comfort-zone kali ini. Thanks to Nadya yang udah mencetuskan topik. ^-^ Buat pembaca yang lain gimana? tentu ada dong ya, comfort-zone tersendiri yang ga kalah uniknya. Happy reading. 🙂

Iklan

5 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s