#BC38 Ketika Kamu Menuliskan Tentang Melupakan Mantan…

Bloggers’ challenges return.

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tantangan dari teman saya, Amru dengan topik: Cara melupakan mantan. Untuk tantangan kali ini saya tak akan memberikan solusi-solusi yang banyak karena saya sendiri pun tak akan melupakan hal-hal yang pernah terjadi. Hal-hal yang pernah terjadi? Iya, hal-hal terbaik yang selalu saya simpan dan saya ambil hikmahnya. Di dalam hal-hal terbaik itu, kita sering terlibat di suatu peristiwa yang membuat kita sesak dengan kesedihan atau sesak dengan kebahagiaan. Apapun itu, orang yang pernah menyinggahi hati kita bahkan sempat menaruh harapan agar berjodoh di pelaminan nyatanya belum terjawab sampai saat ini. Ya, kebanyakan artikel menyebutkan bahwa mantan atau masa lalu pertanda bukan jodoh kita. Tetapi bisa juga benar bisa juga tidak. Banyak yang putus pacaran tetapi memutuskan menikah. Banyak yang terpisah jauh namun berakhir bertemu di pelaminan, namun ada yang berpisah, tak pernah bertemu lagi, sekalinya ketemu udah dengan orang yang baru lagi. Begitulah realita yang kita lihat sehari-hari. Itu semua untuk teori yang pacaran ataupun pernah pacaran ya. Kalau yang belum pernah pacaran saya lebih apresiasi karena lebih baik gausa pacaran. Udah itu aja.

Sesuai judul tulisan saya, ketika kamu menuliskan tentang meelupakan mantan, ada satu point yang seharusnya diambil pelajaran:

Melupakan Keburukannya dan Kembali ke Jalan yang Benar

Setiap manusia tentu pernah melakuan kesalahan. Namun sebaik-baik manusia adalah manusia yang mampu memaafkan meski orang yang berbuat salah tidak minta maaf atau bahkan tidak merasa salah sama sekali. Nah itu gimana lagi dong? ya ga apa. Dari sisi penulis, itu urusan dia sama Allah atuh mah. Yang paling penting kita tidak melakukan hal yang sama dengannya. Saya mengutip dari salah satu kutipan bahwa kemuliaan dari memaafkan lebih baik dan lebih menenangkan. Point yang harus kita ingat ketika kita ingin melupakan seseorang di masa lalu, membuang keburukannya dan kembali ke arah yang seharusnya. Arah disini berarti kita kembali pada apa yang seharusnya tidak kita lakukan. Nah bila readers muslim, alangkah baiknya pacaran tidak perlu dilakukan dan alasannya selain menghindari kegalauan di akhir, belum tentu jodoh. Karena yang tahu urusan jodoh bukan kita kok. Jodoh pasti bertemu. Doakanlah mereka dengan, “Allahu ya Allah, pemilik hati yang agung. Tiada keraguan atas kuasamu, tiada keraguan atas keagunganMu, Engkau mampu menundukkan yang keras menjadi lunak, Engkau mampu menundukkan yang kuat menjadi lemah, Tunjukilah kuasaMu dengan petunjukMu. Jika aku tak mampu, Engkau lah yang berkuasa atasnya. Karena hanya KepadaMulah kukembalikan segala urusan hati.”

Doa yang terbaik maka insha allah kebaikan menyertai kita pula. Keliatan doanya pasrah banget ya? Iya, tapi itulah cara saya melupakan segala keburukannya. Bukan orangnya.

Nah, pertanyaan buat penulis, Bagi readers yang lain, apakah ada saran doa khusus? ga ada. Doa diatas juga hanya saran. Menggunakan bahasa si penulis boleh diikutin boleh engga. Karena doa itu bebas. Aduin aja ke Tuhan.  Berdoa sebaik-baiknya. Ketika kita mendoakan yang baik, maka yang kita dapatkan juga baik. Doa ga hanya untuk si mantan aja kok tapi juga sebenarnya akan kembali ke diri kita. Merenung, apa salah kita selama ini boleh diambil pelajaran supaya kalau ketemu suatu saat dengan orang yang baru kita bisa mengantisipasi hati kita agar tidak dilukai atau melukai.

Jadi mulai sekarang penulis beri saran kalau belum bisa melupakan, coba koreksi lagi ibadah kita, udah benerkah? karena ada pengaruh tersendiri sih saya akuin. Gatau kalau orang lain. Selain itu apakah ada dendam pernah ditinggalin atau frustasi karena terlanjur cinta mati? itu semua akan berakhir kalau kamu ketemu dengan orang baik yang lebih…lebih..lebih baik dari dia. Berubah lebih baik ga ada salahnya kok. Dari yang cuek, mungkin bisa lebih ramah. Dari yang sombong mungkin bisa lebih rendah hati dari yang segala macam keburukan yang udah kita sadari, ga ada salahnya berubah demi diri sendiri kok. Jangan untuk dipuji, dipandang, tapi untuk ketenangan diri sendiri. Tidak ada yang salah dalam berbuat baik. Terlebih yang menuliskan ini sudah menjalani, sehingga mudah bercerita secara berani. Pada akhirnya kita akan mengatakan, “Semoga Allah suka, semoga Allah sayang,”

“Semoga tuhanku sayang, semoga tuhanku memberikan petunjukNya”

Karena apa yang kita tanam, itu pula yang akan kita tuai. Semoga bermanfaat 🙂

 

Thanks to Amru yang sudah memberikan topik kali ini. Topik kali ini selesai 🙂

Iklan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s