#BC40 Seputar Bullying

Bloggers’ challenges return…

Tulisan ini untuk memenuhi tantangan dari teman teman saya, Hera dengan topik Bullying. Berbicara seputar bullying, kita sering dihadapkan dengan berbagai tingkah laku orang-orang di sekitar kita yang tak jarang membuat kesal, marah bahkan depresi. Bullying sudah menjadi hal biasa yang kita lakukan ataupun kita korbannya. Kadang-kadang sebagian orang menganggap bahwa bullying itu hanya sarana candaan tapi sebagian lagi menganggap sebagai sarana balas dendam. Lalu, apa yang harus kita lakukan? oke kita bedah sedikit dibawah ini yaa, readers.

bullying itu apa ya?

Dikutip dari http://cynantia-rachmijati.dosen.stkipsiliwangi.ac.id/2015/01/jurnal-bullying-dalam-dunia-pendidikan/, pengertian Bullying  berasal  dari  kata  bully,  yang  dalam  bahasa  inggris  berarti penggertak,  orang  yang  mengganggu  orang  lemah,  menggertak,  mengganggu (Echols dan Hassan, 1992:87)

Menurut  Bambang  Sudibyo  yang  dikutip  dalam  Kompas  (Senin,  01  Mei  2006) menyebutkan  bahwa  bullying  bermakna  penyiksaan  atau  pelecehan  yang  dilakukan tanpa motif tetapi dengan sengaja atau dilakukan berulang-ulang terhadap orang yang lebih lemah. Sedangkan menurut SEJIWA (2006), bullying diartikan sebagai tindakan penggunaan  kekuasaan  atau  kekuatan  untuk  menyakiti  seseorang  atau  sekelompok orang sehingga korban merasa tertekan, trauma dan tak berdaya. Sarwono (Astuti, 2008) menyebutkan bahwa bullying adalah penekanan dari sekelompok  orang  yang  lebih  kuat,  lebih  senior,  lebih  besar,  lebih  banyak,  terhadap seseorang atau beberapa orang yang lebih lemah, lebih junior, lebih kecil.

Nah dari definisi beberapa ahli tersebut, readers dapat melihat betapa peliknya sikap  mem-bully apalagi sampai membuat orang yang di bully mengalami tekanan batin yang berujung pada hal-hal negatif. Fenomena bullying tak hanya terjadi di Indonesia saja tetapi di setiap negara maju pun melakukan demikian. Bahkan yang lebih mengejutkan, Indonesia termasuk rangking kedua dalam kasus bullying sedunia. Dikutip dalam Tribun pekanbaru (Selasa, 28 April 2015) menjelaskan kasus bullying atau kekerasan terhadap anak di sekolah Indonesia saat ini mendapatkan peringkat kedua terbesar setelah Jepang sementara negara Amerika Serikat sendiri berada di bawah Indonesia. Penelitian tersebut dijelaskan dua tahun yang lalu, gimana sekarang zzz..

Kasus bullying sudah sering sekali kita lihat dari mulai usia kanak-kanak hingga dewasa pun kadang secara tidak langsung kita merasakan bullying itu. Contoh, sesama teman dekat yang mendadak menjauh tiba-tiba ngedatengin kita dan marah-marah ga jelas. Parahnya lagi disertai dengan makian dan kekerasan fisik seperti mencubit, misalnya. Nah, kalau sudah kita merasa tersakiti ataupun merasa mulai tersudutkan tentulah kita merasakan bullying itu sedang berlangsung. Namun karena sudah terlalu sering terjadi, kadangkala tidak menjadi suatu masalah yang berarti. Kemungkinan yang kita hadapi pun beragam seperti kurang percaya diri, trauma, dendam bahkan bunuh diri. Coba deh sesekali kita lihat, kasus orang dewasa yang menjadi korban bully mereka cenderung mengalami depresi bahkan trauma. Nah itu bila terjadi pada orang dewasa, gimana dengan anak-anak? jika dibiarkan terus-menerus, maka kemungkinan yang terjadi pada si anak :

Fakta

 

Dikutip dari https://generasiindonesiaantibullying.wordpress.com/2014/02/13/dampak-dampak-bullying/ dalam artikel dampak-dampak bullying pada anak tahun 2014, kita dapat melihat dengan jelas bahwa 49% anak-anak yang menjadi korban bully mengalami depresi tingkat sedang dan 42% mengalami masalah tidur. Angka ini lebih dominan dibandingkan dengan dampak-dampak lainnya seperti mengalami tegang otot, sakit perut, sakit kepala, kegelisahan, depresi kuat, kesedihan, dan lain sebagainya. Jadi untuk readers yang sudah punya anak, kita bisa membantu anak-anak kita dengan membekali diri mereka dengan mengajarkannya bela diri dan membekali dirinya untuk jangan mudah percaya dengan orang lain. Belajar bela diri ga ada salahnya kok. Bukan berarti kita mengajarkannya pada kekerasan justru kita malah membantu dirinya untuk belajar mempertahankan dirinya. Selain itu membekali dirinya dengan tidak mudah percaya dengan orang lain, karena di dalam pergaulan anak-anak, kita tidak tahu seperti apa persisnya teman-temannya, yang bisa kita lakukan adalah menasehati untuk tidak ikut-ikutan dengan teman yang kita curigai ataupun ciri khas pergaulan mereka yang buruk. Pada dasarnya, para orang tua lah teman terbaik anak-anak ketika mereka tidak dapat membedakan mana teman yang benar-benar baik atau sebaliknya. Untuk para readers yang sudah dewasa, kita juga bisa mengantisipasi dengan tidak ikut-ikutan dengan pergaulan sana-sini dan memperluas pergaulan karena saya melihat fakta di lapangan, teman-teman yang sering menjadi korban bully dan cenderung depresi adalah teman-teman yang sulit membuka diri dengan orang lain hingga menjadi sasaran empuk bagi si pembully. Bedakan ya dengan bully yang bersifat candaan dengan bully yang mengandung kekerasan. Dalam hal ini, fakta di lapangan yang saya lihat adalah bullying yang bersifat kekerasan.

Karena Bersahabat itu tak harus selalu dengan membully. Kita tetap bisa bercanda dan bahkan gila-gilaan bareng teman-teman tanpa harus menindas yang lemah apalagi sampai menindas dengan kekerasan.

I stand here for positive Friendship.” 🙂 

Thanks to Hera yang udah ngasih topik ini. syudah selesaiiii 😀

 

 

Advertisements

5 Comments

  1. Wah.. Wah.. Bagus ni pengertian dan statistiknya jelas.. Tapi wi, bagian pembahasannya kayaknya kurang daleeeeem gitu.. Padahal ko kan korban bully, wkwkkwkwk.

    Aku jadi nggak enak hati sering nge-bully dirimu, tapi susah berhenti, haha..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s