#BC41 Kompetisi Punya Cerita

Bloggers’ challenges return…

Tulisan ini tercipta untuk memenuhi tantangan dari teman saya, Rian dengan topik kompetisi yang pernah kamu ikuti. Namanya kompetisi alias lomba tentu punya cerita yang menarik untuk diceritakan. Kita bersaing dengan orang lain dengan kategori yang berbeda itu adalah hal unik. Sepanjang usia saya hingga sekarang, pengalaman saya di bidang lomba mungkin tidak sebanyak readers. Meski begitu, ada beberapa cerita menarik yang pernah saya ikuti yaitu:

  1. Cerita Sandal Hilang pada Lomba Balap Karung (2001)

Saat itu usia saya sekitar 7 tahun, masih SD dan waktu itu ada lomba 17an di dekat rumah. Lomba balap karung dan teman-temannya. Tahun masa kecil saya memang menyenangkan. Ya, saya akui itu. Balap karung, makan kerupuk, lomba masukkan paku ke dalam botol dan masih banyak lagi. Saat itu lomba balap karung menjadi pilihan saya. Seakan tak peduli dengan musuh saya yang kebanyakan adalah laki-laki, saya dengan pe-de nya mengangkat tangan saya untuk bersedia mengikuti balap karung. Saat itu saya berangkat dari rumah saya dengan memakai sandal baru. Sandal baru yang waktu itu masih booming, sandal new era, ada lampu dibawahnya. Namanya juga anak-anak, kalau udah suka dipake terus sampai bosan. Ketika di lapangan saya tidak tahu kalau balap karung tidak boleh pake sandal. Akhirnya saya letak sandal saya di ujung lapangan dengan harapan ga ketukar sandalnya dengan anak-anak yang lain. Bukan apa-apa, karena saya cukup tahu dengan anak-anak yang kadang sesama teman suka iseng nyembunyiin sandal dan memakai sandal sembarangan wkwkwkk.

Lomba dimulai dan saya benar-benar ga kepikiran dengan sandal saya hingga akhirnya saya menang juara dua yeeee. Setelah berhasil, hadiah diberikan oleh panitia yang memang sudah saya duga waktu itu isinya buku dan pensil. Puncaknya ketika semua sudah bubar dan saya pun kehilangan sandal kesayangan saya. Gatau mau nangis apa enggak, takut dibilang cengeng sama teman-teman, saya cuma bisa pura-pura tenang dan akhirnya saya pulang jalan kaki tanpa memakai sandal. Kebetulan lapangan tempat perlombaan cukup jauh jadi kebayang kan saya pulang gimana karena kepanasan karena waktu itu cuacanya cukup panas.

Lombaku sayang sandalku malang.

2.  Rusaknya Resletting Rok dan Lomba Pidato (2005)

Ini terjadi ketika saya mengikuti lomba pidato di klas 6 SD. Waktu itu sekolah saya mengadakan lomba pidato berbahasa Indonesia. Pesertanya dari tiap kelas yang berprestasi di keelasnya. Persaingan cukup ketat waktu itu hingga tidak sadar sesuatu yang memalukan saya alami di atas pentas.  Mungkin karena terlalu fokus mengingat-ingat kalimat apa yang akan saya sampaikan hingga lupa memeriksa penampilan. Namanya juga anak SD, ga ngerti dengan penampilan yang terlalu rapi karena biasanya baju cukup dimasukkan ke dalam rok, pakai dasi dan topi. Tapi kali ini beda. Saya hanya menggunakan rok hitam dan baju putih saja dan ketika nama saya dipanggil saya pun maju ke atas panggung dan menyampaikan isi pidato saya. Setelah selesai, tiba-tiba salah seorang juri bilang, “Dwita, kancing rok kamu nak.” Tiba-tiba hening dan seperti ga ada kejadian apa pun saya cuma bisa jalan santai padahal wajah udah memerah pengen sembunyi di balik meja. Untungnya saya pakai celana panjang olahraga di dalamnya dan tetap saja malu. Kebayang kan saya jalan sambil berusaha mengancing rok saya tapi gabisa karena ternyata reslettingnya emang udah rusak. Lalu hasil lombanya gimana? bawa piala yang tinggi deh pokoknya. Plus dikasih bingkisan. Setelah saya fikir-fikir, mengikuti lomba ternyata punya resiko. Resiko kalah atau resiko menanggung malu karena kejadian tertentu.

3. Es Doger Wak Icam dan Lomba Bola Kasti (2004)

Hal yang paling saya suka ketika pelajaran penjaskes adalah main bola kasti. Ngenain badan orang dan balik ke home base dengan selamat itu punya kepuasan tersendiri wkwkk. Jangan salahin saya karena aturannya seperti itu, ketika lari si lawan dari area home base, yang menjadi lawannya pun harus menembakkan bola itu ke arah badannya. Kebetulan waktu itu pernah dilombakan dan kelompok saya menang. yess. Pokoknya itu adalah kebahagiaan yang buat tidur nyenyak kalau pulang ke rumah wkwkwkk. Bahkan kalau sampai sekarang saya suka main rame-rame ketimbang sendirian. Nah waktu itu lomba permainan bola kasti dalam rangka 17an dan diadakan di sekolah saya. Kami mendapat nomor urut dan nomor regu saya kebetulan paling akhir dan masing-masing dari kami pun mulai mengatur siasat, kecuali saya. Gatau kena angin apa waktu itu saya menyelinap keluar minta izin sama satpam sekolah untuk keluar dengan alasan beli obat. Bohong banget itu mah kenyataannya saya jajan es doger yang terkenal di sekolah kami. Es doger wak Icam. Saya duduk santai di becak wak Icam karena dia berjualan es doger dengan menggunakan becak dayung. Saya ga begitu ingat dengan apa yang saya ceritakan dengan Wak Icam dan ternyata  uwak icam ngedoain saya menang.  Hubungan saya dengan Wak Icam bisa dibilang lumayan dekat. Kalau pulang sekolah ga melihat es doger wak Icam rasanya beli es malas karena udah cocok dengan rasa es doger buatan wak Icam. Sampai es habis ketika saya masuk ke dalam sekolah dan bermain kasti sampai selesai. Hingga pengumuman keesokan harinya, setelah upacara, nama regu kami menang dan saya langsung teringat doa wak Icam. Sayangnya Wak Icam udah pindah dan lumayan jauh ia berjualan sekarang. Wak Icam….rindu es doger uwak huhu.


*Wak/uwak: Sebutan lelaki/wanita separuh baya dalam budaya masyarakat medan.

4.   Insiden Jatuh dan Lomba Cerdas Cermat (2011)

Kejadian ini terjadi ketika saya akan mengikuti lomba cerdas cermat di SMA saya. Saat itu masih pagi sekali dan saya pun bergegas naik ke tangga. Udah keburu-buru dan akhirnya jatuh dan sakit. Berhubung lombanya di lantai 3 jadi saya harus naik ke lantai 3 dalam keadaan kaki kiri ngilunya ga karuan. Begitu sampai di atas orang udah pada rame termasuk guru-guru sebagai juri maupun penonton. Gatau malunya gimana cuma bisa jalan mengendap-endap dari balik panggung. Kompetisi dimulai dan diberikan pertanyaan satu per satu. Jenis soalnya adalah ips, ipa dan agama. Jadi kebayang kan saya yang waktu itu siswa di jurusan kelas IPS juga harus nguasain materi Ipa walaupun kata anak-anak IPA waktu itu soalnya masih tergolong umum. Setelah selesai tersisa dua regu yang masuk final dan regu saya melawan kelas ipa dan kami juara yeeeee. For the first time ngalahin anak kelas IPA yang tergolong cerdas siswanya adalah kebanggaan tersendiri buat saya. Akhirnya setelah pembagian hadiah saya keluar dalam keadaan kaki masih sakit. Huaaaa lagi-lagi nerima resiko yang kadang diluar dugaan saya. 3 hari kaki sakit dan jalan pun ga tenang.

5.  Mimpi Pak Ramli dan Lomba Cerpen Inspiratif (2014)

Lomba ini saya ikuti ketika saya duduk di bangku universitas di pertengahan semester. Di fakultas saya tepatnya, setiap bulan oktober ada perlombaan menulis cerpen inspiratif yang bertemakan tentang guru. Ada beberapa sub tema yang ditawarkan oleh panitia dan saya memilih sub tema yang berjudul guruku, inspirasiku. Waktu itu saya antara mau dan tidak mengikuti lomba ini karena begitu banyak tugas kuliah dan ingin pulang saja rasanya. Tapi entah kenapa ketika saya membaca sub tema itu, saya teringat guru matematika di bangku SD saya dulu yang sudah menjadi almarhum. Tangan saya ingin sekali menulis tentangnya. Akhirnya saya pun memutuskan untuk menulis kisah tentang pak Ramli, guru yang masih saya ingat hingga saat ini. Saya pun memberikan naskah itu ke kantor tata usaha untuk diberikan kepada panitia. Hingga pada puncak acara itu, nama saya keluar di mading masuk 3 besar pemenang lomba cerpen tersebut. Tak lama setelah saya lihat nama saya di mading, nama saya dipanggil bersamaan dengan pesert lainnya. Hal menarik dari lomba tersebut adalah di atas saya adalah mahasiswa yang sudah sering banyak menang lomba dan terkenal di kampus karena kemampuannya di bidang sastra Indonesia. Sesuai jurusan mereka jadi saya maklumi mereka layak menang dibanding saya yang hanya dari jurusan pendidikan bahasa Inggris.  Akhirnya setelah lomba dibagikan, saya dapat piala dan uang pembinaan yang lumayan jumlahnya. Lalu setelah kompetisi itu saya bukannya bahagia tapi takut karena malam hari setelah lomba itu saya bermimpi didatangi sosok yang mirip dengan Pak Ramli, guru saya. Semenjak kejadian itu, ketika menulis tentang kisah nyata seseorang yang telah tiada, saya lebih berhati-hati atau bahkan enggan untuk menuliskannya.

Dalam setiap kompetisi sesungguhnya terbungkus resiko. Resiko kalah atau resiko mengalami kejadian tertentu. Cerita dibalik kompetisi mengajarkan saya bahwa kebahagiaan yang kita peroleh dari hasil usaha tidaklah selalu mulus. Kadang kita harus mengorbankan sesuatu yang sebenarnya tidak kita inginkan.

Thanks to Rian yang udah memberikan topik kali ini. Topik ke-41 selesai. 🙂

Advertisements

6 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s