Pamit Episode 3

Pukul 10.oo WIB

Aku dan Rudi sampai di rumah Ratih dengan membawa titipan Amar. Ratih, teman sekantor yang sebentar lagi akan menikah lagi dengan lelaki pilihannya. Pagi menjelang siang yang membuatku sedikit jengah karena Rudi memaksaku untuk bergegas pergi dari rumah Ratih.

“Ratih…ratih… Assalamualaikum…” sapaku.

Waalaikum salam.” Terdengar suara perempuan dari dalam rumah.

“Eh, kamu Min. Ada apa?” Tanya Ratih.

“Ini bingkisan dari si Amar. Katanya ini punyamu. Ambillah. Aku tak enak dengan Rudi. Dia sudah menunggu di depan gang,” Tukasku sambil merapikan plastik bingkisan.

“Apa-apan si Amar. Bawa pulang saja! Siapa bilang itu milikku. Aku tak pernah meminta barang-barang lagi. Macam mau lamaran saja dibuatnya. Bawa pulang saja Min, aku sudah dapat hantaran dari calon suamiku. Eh kau datang kan nanti di acara resepsiku?”

“Hah, kau ini kenapa? yang benar saja kuantar lagi! Tega kali kau suruh aku bolak-balik begini. Kau pikir rumahmu tak jauh? sudahlah. Aku letakkan disini saja. Terserah kau mau menerimanya atau tidak yang penting barang ini sudah ku antar,” jawabku dengan ketus.

“Dasar lelaki. Sudah menyesal baru menyadari. Ya sudah, pulanglah kau.” Bentak Ratih.

Dengan nada kesal hingga akhirnya mengusir, Ratih membanting pintu rumahnya tanpa menyentuh barang pemberian si Amar. “Ah, malangnya nasibmu Mar. Maksud hati untuk memberikan barang berharganya kepada orang yang dicintai malah ditinggal cerai.” Gerutuku dalam hati.

Kutinggalkan rumah Ratih dengan penuh hujatan di dalam hati. Kesal beribu kesal menyelimuti hatiku sepanjang perjalanan menuju kantor. “Cih, aku pun kalau jadi si Amar tak mau beratap berdua dengan wanita seperti Ratih. Tak ada niat baik menerima maaf si Amar. Entah apa yang diperbuat si Amar sampai-sampai Ratih benar-benar benci mendengar namanya. Drama rumah tangga yang aneh,” hujatku sepanjang jalan.

……………………………………………………………………………………………………………

Aku dan Rudi telat datang ke kantor hari ini. Bukan main macetnya lalu lintas di ibukota membuatku menggerutu sepanjang jalan. Hari ini pun kantor terlihat sepi. Mungkin masih ada yang rapat dan belum kembali ke tempatnya masing-masing. Aku berjalan lalu duduk di kursi panasku. Seperti biasa, sebelum berperang dengan dokumen-dokumenku, aku membuka e-mail untuk mengecek client yang memesan barang hari ini. Sudah menjadi pekerjaanku mem back up pesan dari para client lalu mengkonfirmasi barang-barang tersebut ke pabrik. Kubuka isi pesan tersebut satu per satu. Tak lupa setelah kubaca dan ku balas, aku memindahkannya ke catatan kecil di samping komputerku. Setelah yakin terbaca semua, ku log out akunku agar tak diutak-atik rekan kerjaku pada saat aku lengah. Namun di saat ingin menutup e-mail, tiba-tiba notif e-mail masuk kuterima. Tak ada kecurigaan awalnya tetapi setelah dibuka ternyata yang mengirim pesan itu…

From: Aruna@hotmail.com

Mas, Saya tetangga di sebelah kiri no.11. Saya pergi hari ini. Kunci saya letak di daun jendela rumah mas. Trims.

Jleb. Satu nama yang mengagetkanku sekaligus membuat jengkel pula. Bagaimana tidak jengkel, tetangga Rudi yang pernah diceritakan aneh tersebut mendadak mengirimkan pesan tanpa ada basa-basinya. “Tapi bagaimana dia tahu e-mailku? apa si Rudi yang memberikannya?” tanyaku dalam hati. “Ah, satu hari yang menjengkelkan!” jengahku sambil menutup buku catatanku.

Sore menjelang malam, aku pun bergegas pulang. Berkas-berkas yang besok akan dipresentasekan dan back up dari para client sudah kusimpan dalam satu file. Pikiranku sudah tak tentu. Seharian dibuat jengah karena ulah keluarga kakek di rumah, drama rumah tangga si Amar dan istrinya sampai pesan yang menjengkelkan dari tetangga sebelah rumah. “Hari macam apa ini, untung saja suasana kantor tak membuat kesal hari ini, hufftt.” Tak lama aku menggerutu, Rudi datang menghampiriku.

“Udah siap kau bereskan barang-barangmu? aku sudah lapar. Sebelum pulang kita cari makan dulu ya.” Kata Rudi sambil mengelus ngelus perut buncitnya.

“Sudah.” Jawabku.

Sore ini kami makan di daerah Bintaro. Rudi makan dengan lahapnya sementara aku justru sebaliknya. Hari ini kekesalanku menjadi-jadi hingga makan pun tak selera.

“Kenapa lagi kau? Nasi udah kau beli mahal-mahal tak mau kau makan,” kata Rudi.

“Apa sih Rud. Kau tak tahu apa yang ku hadapi hari ini. Serasa pecah ubun-ubunku saking kesalnya.” Jawabku.

“Aku tahu. Tadi pagi wajahmu sudah tak sedap dipandang. Makanya kusuruh kau makan.” Kata mamakku salah satu menghilangkan kekesalan itu banyak makan,” sambung Rudi.

“Diam sajalah kau. Nasinya kubawa pulang saja.” Eh, cepat kau makan. Ada yang mau kutanya soal tetangga lamamu itu. si…siapa tuh namanya…. haaa mbak Aruna.” Sambungku.

Rudi tersedak mendengar ucapanku. Wajahnya berubah seketika dan langsung minum cepat-cepat.

“Kenapa kau bertanya soal perempuan itu? buat ulah apa dia?”

“Tidak. Aku hanya bertanya. Tadi siang dia mengirimkan pesan lewat e-mailku. Apa kau yang memberikan alamat e-mailku?”

“Iya. Karena kemarin dia minta e-mailku tapi aku lupa passwordnya. Jadi kusuruh dia kalau butuh bantuan kirim pesan lewat e-mail kau saja.”

“Pantaslah. Cara dia mengirim pesan itu buat jengkel. Singkat tepat padat. Tapi mungkin setelah kupikir-pikir, wajar-wajar saja sih karena dia baru kenal denganku.”

“Haha. Nanti kau tahu sendiri, Min. Sudahlah. Ayo kita pulang. Sudah jam 7. Lama juga kita berkombur disini.”

“Ayoklah. Aku juga sudah bosan.”

…………………………………………………………………………………………………………………….

Pukul 19.30 WIB

“Akhirnya sampai  di rumah juga. Lama kali kau bawa motor. Lain kali aku sajalah yang bawa motormu itu. Nyaris tertidur aku barusan,” kataku kepada Rudi.

“Hey, Tahu diri lah kau. Sudah menumpang masih saja mengeluh,” sambung Rudi dengan nada kesal.

“Hehe iya.iya. Oh iya kau belum lengkap bercerita tentang tetangga lamamu itu,” kataku sambil menunjuk rumah Aruna.

“Aruna lagi Aruna lagi. Bising kali bibirmu itu. Kau tahu, dia itu wanita teraneh di komplek kita ini.” Sambung Rudi.

“Loh aneh kenapa? karena dia sering menyiram bunga tengah malam?” tanyaku lagi.

“Tau darimana kau? Ya. Itu termasuk,” balas Rudi.

“Pernah melihat waktu aku sempat terbangun tengah malam dan hendak keluar untuk cari nasi goreng. Aku lihat dia menyirami bunganya di depan terasnya.”

“Hmm begitu ya. Aku pernah mendengar seseorang di rumah itu menyirami bunga mawarnya tiap malam. Tapi aku tak pernah benar-benar yakin. Dia sudah gila. Orang tuanya saja ditinggalkan lalu memilih hidup sebatang kara bersama bunga mawar putihnya itu.”

“Jangan-jangan memang beneran si Aruna Rud. Ah ada saja ya. Mungkin kau benar tapi mungkin juga kau salah. Dia seharian bekerja dan hanya malam lah waktunya untuk bunga nya itu.

Bah, kupikir ada benarnya sangkaanmu itu. Tapi sorry ya aku sudah 4 tahun bertetangga dengannya tapi tak ada yang berubah. Apa kau sebut wajar kalau menyirami bunga dengan darah ayam? Kupikir tiap malam aku menonton siaran ulang suzanna tahun 84.”

“Berarti kau pernah melihat dia dong?”

“Tidak. Aku hanya pernah mendengar gosip-gosip penjaga warung di sebelah.”

Benarkah? Dia sering tak berbicara banyak kalau pamit pergi. Hanya menitipkan kunci. Kalau begitu, tak usahlah kau hiraukan. Biarkan itu urusannya. Sesekali ketika aku berada di rumah dan dia menemuiku ya seperti itu. Datar-datar saja wajahnya.”

“Nah ragu kau kan? Satu lagi, apa pernah dia pamit dengan salam atau basa-basi? Tak pernah. Pamitnya selalu mengundang tanya bahkan dengan orang segoblok seperti aku. Merinding aku menceritakannya. Lain kali jangan kau pancing aku untuk menceritakannya.” jawab Rudi sambil merebahkan tubuhnya.

“Hmm. Baiklah. Tapi sejujurnya aku masih penasaran dengan dia,” sambungku lalu meninggalkan Rudi yang perlahan memejamkan matanya.

Malam tanda tanya yang berawal dari rasa penasaranku tentang si tetangga penyuka mawar putih. Apa lagi keanehan yang muncul disana? fikiran ini mendadak gila lalu hanya bisa kutinggal pergi. Pergi tidur. Ya, menanti hari esok yang lebih baik dari hari ini.

Bersambung….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Pamit Episode 2

Kutinggalkan rumah itu dengan penuh kekesalan. Bukan penjelasan yang kuterima namun justru pengabaian. Kata-kata pak Sardi begitu nyaring ditelingaku. Aku tak mengerti apa yang terjadi dengan mereka. Sebagai cucu pertama, tak pernah kudapati hal-hal aneh yang terjadi dirumah kakek. Ah, sudahlah. Kepalaku penuh dengan serbuan tanya tak bermuara. Tangisanku pecah ditengah jalan licin disepanjang rumah kakek. Kubiarkan motorku disana. Pagi ini benar-benar mengguncang batinku.

Pukul 07.30 WIB

“Sudah sarapan, Min? aku dengar rumah kakekmu akan dijual. Itu benar?” tanya Rudi

“Tak usah kau tanyakan itu. Aku tak tahu apapun soal itu,” ujarku.

“Ah, bohong kau kan? mana mungkin cucu pertama tak tahu soal itu. Barusan tantemu menelpon aku nanyain kau sudah pulang apa belum. Mereka butuh kau untuk menjadi saksi atas penjualan rumah kakekmu.”

“Apa kau bilang? hahh..sudahlah. Jengah aku mendengar penjelasan kau. Bahkan aku pun tak diterge sewaktu disana. Jadi apa kau jawab?”

Yah, mana lah kutahu kau pulang jam segini. Ya ku jawab tak tahu aku tante.”

“Bagus. Sekarang antar aku ke kantor. Motorku tertinggal disana dan jangan bertanya mengapa tertinggal,” jawabku.

Dengan nada bingung Rudi mengeryitkan dahi lebarnya. Tampak sekali wajah kebingungan di wajahnya sehingga aku pun menahan geli melihatnya. Wataknya sangat kupahami apalagi ketika melihat wajahku yang terlihat seperti tidak terjadi apapun. Maklum saja, Rudi sudah lama kenal dengan keluargaku sejak kami satu kamar ketika duduk di bangku kuliah. Orang tuaku sampai-sampai menganggapnya seperti anak kedua karena begitu karibnya ia denganku.

“Ayolah. Cepat sedikit. Lama kali pergerakan kau,” sahut Rudi sambil menggeber-geberkan sepeda motornya.

“Sabar Rud. Aku masih mencari titipan si Amar. Kemarin dia menitipkan untuk si Ratih. Dia akan menikah bulan depan.”

“Apa Min? tak salah dengar aku? Kurasa sudah gila si Ratih itu. Belum lagi keluar keputusan dari pengadilan sudah ingin menikah lagi,”sahut rudi.

“Kenapa jadi kau yang marah? Itu urusan rumah tangga mereka. Aku hanya ingin menjaga amanah dia. Lagipula Amar itu juga kawanku. Mereka bercerai kan baik-baik. Jadi kufikir tak ada salahnya ku bawakan titipan ini untuk si Ratih.”

“Terserah kau sajalah. Cepatt.”

“Iya Rud iya. Tak usah marah-marah begitu juga.”

Pagi menjelang siang yang geli untuk diingat. Aku merekam segala kejadian hari ini dalam ingatan tajamku. Aku menahan geli melihat wajah kusamnya Rudi di sepanjang perjalanan dan membawa bingkisan orang yang akan bercerai. Bingkisan ini seharusnya lebih layak diberikan kepada orang yang akan menikah namun yang ada didepan mataku sekarang justru sebaliknya. Entah apa maksud si Ratih memberikan bingkisan ini untuk si Amar. Mungkin aku akan menemukan jawabannya setelah bingkisan ini sampai pada orangnya atau mungkin juga aku akan mendapat titipan baru lagi. “Pagi yang masih meyisakan tanya,”kataku dalam hati.

Bersambung..

 

 

 

 

Pamit

Mobil bekas yang sudah berumur belasan tahun itu akhirnya dimuseumkan. Museum itu gudang belakang rumah kakek lebih tepatnya. Setelah beberapa hari menjadi perbincangan hangat, Pak Sardi akhirnya angkat kaki  dan meninggalkan mobil rongsokan itu. “Aku sudah muak!” mentah mentah ia lontarkan nada kerasnya kepada kami semua. Pagi itu kabut berkelit diiringi tangisan pecah dari anak anak kakekku. Mobil rusak sekian tahun tiada satupun yang mau memperbaikinya. Pak sardi sudah lama tinggal dirumahku. Setelah kakek meninggal ia memutuskan menyerahkan jabatannya kepada Agung. Entah apa yang ada dibenak pak sardi saat itu membuatku seribu kali memutar kepala untuk membujuknya agar tetap tinggal.

“Pak, jangan begini. Kakek sudah lama mengenal bapak lebih dari kami mengenal kakek. Memangnya bapak tidak sayang dengan mobil itu? saya mah ogah kalau diberi sebagai buah tangan. Lagipula kakek meninggalkan mobilnya untuk bapak. itu amanah pak. Daripada disini menuhin ruang gudang,” tukasku.

“Ah, dasar cucu durhaka! aku tetaplah orang lain. Tak pantas kau berkata demikian. Mobil itu lebih dari sekadar sejarah. Bagaimana aku bisa menelantarkan begitu saja. Kau bodoh, Nak! pikiranmu lugu seperti cucu-cucu pak Rohman yang lain. Tak banyak yang kau tahu apa yang sebenarnya yang telah terjadi. Kalian terbiasa disuguhkan dengan perlakuan palsu dari orang tua kalian. Intinya aku sudah muak. Maaf bila ku sudah lancang tetapi aku pun merindukan keluargaku,” ujar pak Sardi.

“Perlakuan palsu apa? lantang sekali bapak. Aku tak suka orang tuaku direndahkan!” jawabku.

“Kau membela orang tuamu? lantas kau anggap apa kakekmu itu, Nak? aku tak mengerti dengan keluarga ini. Memang lebih baik aku tidak disini lagi,” ujarnya.

Pak Sardi pergi tanpa pamit pagi itu. Ia hanya membawa tas dua koper dan sebuah al quran yang ada di tangannya. Rumah kakek terasa hening saat anak- anak kakek satu per satu pulang dan enggan berkomentar. Aku sungguh tidak mengerti hari ini. Ada pihak yang terlihat geram dan memilih bungkam, ada yang senyum manis namun di meja makan ia menangis bahkan ada pula yang terlihat biasa saja tanpa kesedihan didalam matanya. Ada apa dengan kepergian kakek? mengapa aku tidak tahu? apalagi perlakuan palsu yang disebut pak sardi tadi? fikiranku hilang mengawang tak tentu arah dirumah ini. Lebih baik aku diam saja begini? tapi sampai kapan? kakek sudah tiada dan sekarang rumah ini milik siapa?

#bersambung…..

ibu