#bc9 Tentang Karya dari 5 Penulis Favorit

312

Tulisan ini adalah bagian dari blogger’s challenges yang kesembilan dengan topik 5 penulis Favorit yang dicetuskan oleh Wawa. Yep, setelah topik sebelumnya mengacu kepada personal atau masyarakat, kali ini ngarahnya ke buku.

Mulai dari……………………

1.“Aku”

karya: Chairil Anwar dalam buku Aku karya Sjuman Jaya

Buku kumpulan puisi pertama yang menjadi inspirasi  saya untuk mencintai puisi dimulai dari SMA. Pinjem dari teman, awalnya ga tertarik sama sekali. Tapi setelah dibuka-buka, dibaca dan dibolak-balik halamannya, bahasanya unik. Tokoh Chairil Anwar ini sebenarnya sudah ada di pelajaran bahasa Indonesia, tapi namanya juga anak-anak dan dulunya ga gitu tertarik dengan dunia sastra jadi nganggapnya biasa saja.  Ceritanya temenku pinjem buku ini untuk musikalisasi puisi di acara sekolahnya. Kebetulan teman saya waktu SD, jadi pas SMA kami beda sekolah. Setelah itu tertarik dan membaca bahasa puisinya. Kutipan puisi dari Chairil Anwar yang sampai sekarang sangat lihai kulafalkan adalah:

Kalau sampai waktuku

Kumau tak seorang pun kan merayu

Tidak juga kau

Tidak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Seputar seluruh isi buku ini ga banyak yang saya ingat. Hanya saja karena nonton film AADC kemarin jadi teringat lagi kalau buku itu pernah dibaca. Seperti kumpulan puisi biasa lainnya, hanya saja karena yang menulis tokoh pujangga baru dalam sejarah sastra Indonesia jadi penggunaan bahasanya diacungi jempol. Contoh kata “binatang Jalang” yang digunakan Chairil Anwar menunjukkan eksistensinya dalam penggunaan ilmu linguistik cukup memuaskan. Dalam kutipan (4), ia menggunakan kata ‘binatang jalang’, karena ia ingin menggambar seolah seperti binatang yang hidup dengan bebas, sekenaknya sendiri, tanpa sedikitpun ada yang mengatur. Lebih tepatnya adalah binatang liar. Karena itulah ia ‘dari kumpulannya terbuang’. Dalam suatu kelompok pasti ada sebuah ikatan, ia ‘dari kumpulannya terbuang’ karena tidak ingin mengikut ikatan dan aturan dalam kumpulannya.*

Dari situlah  saya jatuh cinta dengan buku tersebut yang berujung pada menulis puisi dan karya sastra lainnya. Interpretasinya bagus, literasinya indah meskipun terkesan liar. Itulah Chairil Anwar. Karyanya yang sangat fenomenal tersebut bukan berarti tak ada karyanya yang lain. Setelah membaca buku tersebut, buku karya beliau yang masih belum saya jamahi adalah kumpulan puisinya yang bejudul derai-derai cemara. Walaupun ada didalamnya ada puisi “aku”, tapi buku kumpulan puisi tersebut susah dicari. Ga ada yang punya nyari-nyari informasi mengenai buku tersebut. Nah, kenapa derai-derai cemara? karena kumpulan puisi karya beliau didalam buku tersebut tidak kalah liarnya, tidak kalah mesranya makna itu berkutat dikepala ululuu..

2. Kumpulan puisi Hujan Bulan Juni

karya: Sapardi Djoko Damono

Salah satu sastrawan yang paling saya kagumi setelah Chairil Anwar adalah Sapardi Djoko Damono. Karyanya yang berbentuk kumpulan puisi “Hujan Bulan Juni” tidak kalah menariknya dengan isi kumpulan puisi karya Chairil Anwar. Sapardi mengemas bahasa puitis yang indah dan penuh filosofis. Apalagi karyanya yang berjudul hujan bulan Juni menjadi catatan tersendiri bagi saya dan menjadi inspirasi saya ketika ingin menulis puisi. I love it so much deh pokoknya. Disamping itu, saya juga mengagumi karyanya yang lain seperti buku “Pada suatu hari nanti.” Buku tersebut menarik hati saya sejak hujan bulan juni hadir dan promosi buku-buku karya beliau juga ikut terkenal. Berdasarkan sumber yang diambil dari internet, buku pada suatu hari nanti adalah seperti kumpulan-kumpulan dongeng namun memiliki nilai filosofis yang tinggi. Salut deh untuk pak Sapardi. Tulisannya bisa menginspirasi semua orang termasuk saya. Salah satu karya yang ada di dalam buku hujan bulan Juni yang membuat saya terisnpirasi dari setiap baitnya;

Tak ada yang lebih tabah

Dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak

Dari hujan bulan Juni

Dihapusnya jejak-jejak kakinya

Yang ragu-ragu di jalan itu

3. Memang Jodoh

karya: Marah Rusli

Karya terakhir sang pujangga lama, Marah Rusli lagi-lagi membius saya untuk membaca bukunya. Novel yang mengisahkan perjalanan kehidupan Hamli yang sangat kental dengan adat minangkabau pada masa kolonial belanda telah berhasil menyeret saya di kehidupan tempoe doeloe. Kemasan marah Rusli dengan bahasa melayu di novelnya terlihat di setiap halaman yang menyisipkan pantun melayu. Kisah Hamli dan Din Wati, dua sejoli yang dipertemukan Tuhan dengan berdiri diatas batas adat istiadat minangkabau saat itu. Din wati adalah seorang wanita sunda yang bertemu dengan Hamli pada saat Hamli merantau ke tanah Jawa. Lika-liku perjalanan Hamli sampai bertemu Din Wati menjadi suatu cerita menarik di zaman sekarang. Eksistensi marah rusli sebagai sastrawan terlihat saat karya sebelumnya, Siti Nurbaya juga menjadi inspirasi penulis-penulis di zamannya. Hanya saja, di buku Memang jodoh, bahasanya terlalu berbelit-belit sehingga pembaca yang melihat dan memahaminya cukup sulit di awal. Hal itu sangat wajar menurut saya karena buku tersebut ditulis pada masanya. Jadi sembari membaca buku tersebut, kita mengeksplorasi diksi yang dipakai juga beragam. Seperti Amboi, Aduhai, burung bayan, menyesah, mengulikkan,beralat.

Burung bayan: burung nuri

Menyesah:mencuci dengan cara membanting-banting pakaian pada batu dan lain-lain.

Mengulikkan:menidurkan anak sambil bersenandung atau membuai dengan buaian/meninabobokkan

Beralat: berpesta

Kata-kata tersebut adalah salah satu potongan kata dari kalimat yang ada di novel tersebut. Dari novel tersebut saya pun belajar bahasa Indonesia pula. Bukannya bahasa Indonesia dulunya adalah bahasa melayu? That’s the point.

4. Laskar pelangi dan keempat tetraloginya : Laskar pelangi, Sang pemimpi, Edensor, Maryamah karpov

karya: Andrea Hirata

Yep, karya yang nyentrik dan akhirnya familiar dengan filmnya. Laskar pelangi. Saya sempat membaca novel laskar pelangi pada saat SMP dan itu milik teman saya hihi. Selang berapa tahun eh novelnya difilmkan. Saat itu belum kenal penulisnya tapi setelah filmnya booming, saya tahu penulisnya itu ternyata pernah sekolah di Prancis. Kisah perjuangan anak-anak SD muhammadiyah Gantong di daerah Belitung sangat menginspirasi saya pula untuk tertarik jadi guru. Sosok bu Mus sebagai guru yang sabar dan penuh semangat ketika mengajar anak-anak disana menjadi sosok teladan tersendiri di cerita tersebut. Tokoh yang kita kenal seperti ikal, lintang, kucai, mahar, flo, harun, dan lainnya menyadarkan kita bahwa sekolah terpencil dan sekolah tertinggal seperti sekolah mereka ternyata memiliki anak-anak yang bercita-cita tinggi bahkan berprestasi pula seperti Lintang. Saya tertegun juga ketika membaca novel tersebut, Andrea menceritakannya begitu alami sehingga pembaca dapat pesan moralnya langsung, meskipun ada beberapa kalimat yang berbelit. Penuh inspirasi dan memiliki ciri khas , itulah yang ditunjukkan Andrea di tetraloginya. Ciri khas andrea yang terlihat adalah ia menggunakan setiap sub cerita baru dengan kata “mozaik” di buku maryamah karpov. Satu kata untuk buku ini: inspiratif.

Setelah karya tersebut, ada lagi nih karya beliau yang sangat membuat saya penasaran. “Cinta di dalam gelas” heheheheehe. Belum ada kepikiran untuk membaca dan mengulas buku ini jadi ya hanya untuk daftar buku impian wajib baca saja saat ini.

5. Kukila

Karya: M. Aan Mansyur

Awalnya gatau sama sekali sebelumnya kalau Aan mansyur menjadi salah satu pengarang puisi di film Ada apa dengan Cinta yang pertama. Saya mengenal penulis ini dari karyanya yang lain, Kukila. Kumpulan cerpen yang buat saya penasaran dengan sosok Kukila yang diceritakan Aan Mansyur di bukunya tersebut. Diceritakan Kukila adalah seorang gadis yang menarik dan nama kukila tersebut diambil dari salah satu ekor burung yang bernama Kukila. Bisa dibilang kumpulan cerpennya ini menguak sisi kehidupan kukila pada saat ia berumah tangga. Bahasanya juga mengandung sisi sastra yang tinggi sehingga ketika orang awam membaca mungkin bisa terjebak dengan maknanya. Aan Mansyur mengemas karyanya dengan segelitik cerita dewasa yang dialami oleh Kukila di dalam rumah tangganya. Namun pembaca seolah-olah menjadi saksi di dalam kehidupan rumah tangga si Kukila tersebut. Kutipan cerita dari kukila yang menjadi inspiratif bagi saya adalah

Dua hal aku benci dalam hidup: September dan pohon mangga. September tidak pernah mau beranjak dari rumah. Betah. Ia sibuk meletakkan neraka di seluruh penjuru. Di ruang tamu. Di ranjang. Di meja makan. Bahkan di dada. Batang pohon mangga tetap selutut persis prasasti batu. Ia berdiri mengekalkan dosa-dosa dan dosa adalah pemimpin yang baik bagi penyesalan-penyesalan.

Terlepas dari karya kukila, Aan Mansyur membuat kumpulan puisi lagi yang juga ada di dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2 yang berjudul tidak ada new york hari ini. Adapun kutipan menarik dari puisi tidak ada new yok hari ini:

Tidak ada New York hari ini.
Tidak ada New York kemarin.
Aku sendiri dan tidak berada di sini.
Semua orang adalah orang lain.

Bahasa ibu adalah kamar tidurku.
Kupeluk tubuh sendiri.
Dan cinta-kau tak ingin aku
mematikan mata lampu.
Jendela terbuka
dan masa lampau memasukiku sebagai angin.
Meriang. Meriang. Aku meriang.
Kau yang panas di kening. Kau yang dingin di kenang.

Ya. Karya yang berjudul tidak ada new york hari ini berhasil membius saya sekali lagi untuk mencari karya Aan lainnya. Novelnya yang berjudul Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi menjadi sasaran saya selanjutnya. yippii ^_^

5 penulis dan karyanya adalah dari sekian yang menjadi favorit maupun yang menjadi inspirasi saya saat ini. Entah dalam menulis puisi atau menulis cerpen. Walau bukan dari jurusan sastra, karya mereka cukup membuat saya jatuh cinta dalam waktu yang lama. Seperti kutipan dari salah seorang penulis Indonesia,

Aku, kamu, buku
itu getar yang menjalar di halaman waktu
Helvy Tiana Rosa

 

 


*dikutip dari http://www.duniasastra.net/2015/12/makna-puisi-aku-karya-chairil-anwar.html