Pamit Episode 2

Kutinggalkan rumah itu dengan penuh kekesalan. Bukan penjelasan yang kuterima namun justru pengabaian. Kata-kata pak Sardi begitu nyaring ditelingaku. Aku tak mengerti apa yang terjadi dengan mereka. Sebagai cucu pertama, tak pernah kudapati hal-hal aneh yang terjadi dirumah kakek. Ah, sudahlah. Kepalaku penuh dengan serbuan tanya tak bermuara. Tangisanku pecah ditengah jalan licin disepanjang rumah kakek. Kubiarkan motorku disana. Pagi ini benar-benar mengguncang batinku.

Pukul 07.30 WIB

“Sudah sarapan, Min? aku dengar rumah kakekmu akan dijual. Itu benar?” tanya Rudi

“Tak usah kau tanyakan itu. Aku tak tahu apapun soal itu,” ujarku.

“Ah, bohong kau kan? mana mungkin cucu pertama tak tahu soal itu. Barusan tantemu menelpon aku nanyain kau sudah pulang apa belum. Mereka butuh kau untuk menjadi saksi atas penjualan rumah kakekmu.”

“Apa kau bilang? hahh..sudahlah. Jengah aku mendengar penjelasan kau. Bahkan aku pun tak diterge sewaktu disana. Jadi apa kau jawab?”

Yah, mana lah kutahu kau pulang jam segini. Ya ku jawab tak tahu aku tante.”

“Bagus. Sekarang antar aku ke kantor. Motorku tertinggal disana dan jangan bertanya mengapa tertinggal,” jawabku.

Dengan nada bingung Rudi mengeryitkan dahi lebarnya. Tampak sekali wajah kebingungan di wajahnya sehingga aku pun menahan geli melihatnya. Wataknya sangat kupahami apalagi ketika melihat wajahku yang terlihat seperti tidak terjadi apapun. Maklum saja, Rudi sudah lama kenal dengan keluargaku sejak kami satu kamar ketika duduk di bangku kuliah. Orang tuaku sampai-sampai menganggapnya seperti anak kedua karena begitu karibnya ia denganku.

“Ayolah. Cepat sedikit. Lama kali pergerakan kau,” sahut Rudi sambil menggeber-geberkan sepeda motornya.

“Sabar Rud. Aku masih mencari titipan si Amar. Kemarin dia menitipkan untuk si Ratih. Dia akan menikah bulan depan.”

“Apa Min? tak salah dengar aku? Kurasa sudah gila si Ratih itu. Belum lagi keluar keputusan dari pengadilan sudah ingin menikah lagi,”sahut rudi.

“Kenapa jadi kau yang marah? Itu urusan rumah tangga mereka. Aku hanya ingin menjaga amanah dia. Lagipula Amar itu juga kawanku. Mereka bercerai kan baik-baik. Jadi kufikir tak ada salahnya ku bawakan titipan ini untuk si Ratih.”

“Terserah kau sajalah. Cepatt.”

“Iya Rud iya. Tak usah marah-marah begitu juga.”

Pagi menjelang siang yang geli untuk diingat. Aku merekam segala kejadian hari ini dalam ingatan tajamku. Aku menahan geli melihat wajah kusamnya Rudi di sepanjang perjalanan dan membawa bingkisan orang yang akan bercerai. Bingkisan ini seharusnya lebih layak diberikan kepada orang yang akan menikah namun yang ada didepan mataku sekarang justru sebaliknya. Entah apa maksud si Ratih memberikan bingkisan ini untuk si Amar. Mungkin aku akan menemukan jawabannya setelah bingkisan ini sampai pada orangnya atau mungkin juga aku akan mendapat titipan baru lagi. “Pagi yang masih meyisakan tanya,”kataku dalam hati.

Bersambung..

 

 

 

 

Iklan

Pamit

Mobil bekas yang sudah berumur belasan tahun itu akhirnya dimuseumkan. Museum itu gudang belakang rumah kakek lebih tepatnya. Setelah beberapa hari menjadi perbincangan hangat, Pak Sardi akhirnya angkat kaki  dan meninggalkan mobil rongsokan itu. “Aku sudah muak!” mentah mentah ia lontarkan nada kerasnya kepada kami semua. Pagi itu kabut berkelit diiringi tangisan pecah dari anak anak kakekku. Mobil rusak sekian tahun tiada satupun yang mau memperbaikinya. Pak sardi sudah lama tinggal dirumahku. Setelah kakek meninggal ia memutuskan menyerahkan jabatannya kepada Agung. Entah apa yang ada dibenak pak sardi saat itu membuatku seribu kali memutar kepala untuk membujuknya agar tetap tinggal.

“Pak, jangan begini. Kakek sudah lama mengenal bapak lebih dari kami mengenal kakek. Memangnya bapak tidak sayang dengan mobil itu? saya mah ogah kalau diberi sebagai buah tangan. Lagipula kakek meninggalkan mobilnya untuk bapak. itu amanah pak. Daripada disini menuhin ruang gudang,” tukasku.

“Ah, dasar cucu durhaka! aku tetaplah orang lain. Tak pantas kau berkata demikian. Mobil itu lebih dari sekadar sejarah. Bagaimana aku bisa menelantarkan begitu saja. Kau bodoh, Nak! pikiranmu lugu seperti cucu-cucu pak Rohman yang lain. Tak banyak yang kau tahu apa yang sebenarnya yang telah terjadi. Kalian terbiasa disuguhkan dengan perlakuan palsu dari orang tua kalian. Intinya aku sudah muak. Maaf bila ku sudah lancang tetapi aku pun merindukan keluargaku,” ujar pak Sardi.

“Perlakuan palsu apa? lantang sekali bapak. Aku tak suka orang tuaku direndahkan!” jawabku.

“Kau membela orang tuamu? lantas kau anggap apa kakekmu itu, Nak? aku tak mengerti dengan keluarga ini. Memang lebih baik aku tidak disini lagi,” ujarnya.

Pak Sardi pergi tanpa pamit pagi itu. Ia hanya membawa tas dua koper dan sebuah al quran yang ada di tangannya. Rumah kakek terasa hening saat anak- anak kakek satu per satu pulang dan enggan berkomentar. Aku sungguh tidak mengerti hari ini. Ada pihak yang terlihat geram dan memilih bungkam, ada yang senyum manis namun di meja makan ia menangis bahkan ada pula yang terlihat biasa saja tanpa kesedihan didalam matanya. Ada apa dengan kepergian kakek? mengapa aku tidak tahu? apalagi perlakuan palsu yang disebut pak sardi tadi? fikiranku hilang mengawang tak tentu arah dirumah ini. Lebih baik aku diam saja begini? tapi sampai kapan? kakek sudah tiada dan sekarang rumah ini milik siapa?

#bersambung…..

ibu