#BC42 2 Pekerjaan Impian

Bloggers’ challenges return…..

Tulisan ini tercipta untuk memenuhi tantangan dari teman saya, Trias dengan topik “2 pekerjaan Impian.” Ketika mendengar topik ini, saya teringat dengan beberapa impian saya yang pernah saya tuliskan di buku harian saya dulu. Mungkin benar kata orang, bahwa dengan menulis kita tidak mudah melupakan apa yang pernah kita inginkan dan kita menulisnya kala itu. Disaat hal seperti ini benar-benar kerasa bahwa kita harus benar-benar menghargai setiap ide dari apa yang kita tulis.  Continue reading

Selamat pagi!

Kabar baik bagi teman-teman yang mempunyai puisi. Gubuk Sastra dan Sudut Sastra mengadakan event Sayembara Puisi. Silahkan kirim puisi kalian hanya ke line @oby6022n (tidak ke line/WA yang ada di bio).
250 orang yang beruntung puisinya akan dimasukan dalam satu buku Kumpulan Puisi Sudut Sastra. Jadi peluang sangat besar untuk kalian yang mengirimkan.
Syarat:
1. Puisi hanya dikirim ke line @oby6022n
2. Tema cinta
3. Follow @gubuk_sastra dan @sudutsastra
4. Bagikan (Repost) sayembara ini ke timeline Instagram kalian dgn meng-tag @gubuk_sastra, @sudutsastra dan minimal 5 teman kalian.
5. Judul dan Panjang Puisi bebas serta hanya mengirim SATU buah karya. Dan ada nama penulis puisi serta akun instagram kalian dibawah puisi kalian
6. Waktu Sayembara hanya sampai tanggal 10 April 2017.
7. Pengumuman bisa dilihat di timeline LINE @oby6022n pada tanggal 5 Mei 2017 (diperpanjang dari waktu sebelumnya karena banyaknya karya yang masuk)

Silahkan dikirim karya-karya kalian!

#Bc12 Hewan, Teman atau Lawan?

Tulisan ini adalah bagian dari blogger’s challenges dengan topik yang sama. Ummm.. ngeliat dari topik kali ini sebenarnya mengingatkan saya pada film hachiko shibuya yang sampai sekarang ga bosan saya tonton. Film yang mengisahkan kesetiaan seekor anjing dengan majikannya membuat saya terharu dan tak jarang lebay ngeluarin air mata selama mengikuti ceritanya. Yep, di dalam film tersebut hewan benar-benar baik kepada majikannya bahkan setia menunggu setiap majikannya pulang bekerja. Namun dibalik film tersebut sebenarnya saya juga berfikir apakah di dalam kehidupan nyata ada orang yang memperlakukan hal yang sama? jawabannya ada. Tapi tak jarang pula manusia menyakiti mereka. Lantas kita sebagai manusia, kita memosisikan mereka sebagai apa?

yok kita diskusi…

  1. Hewan itu juga makhluk ciptaan Tuhan

Kita sering lupa kalau di dunia ini Tuhan menciptakan makhluk dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Makhluk itu bukan hanya manusia saja. Secara nyata, kita hidup berdampingan dengan mereka. Let say hewan dan tumbuhan. Dalam hal ini yang menjadi permasalahan adalah hewan yang ada di sekitar kita dengan segala tingkah lakunya yang tentu saja berinteraksi dengan manusia. Contoh kasus ketika seekor kucing mendatangi kita ketika makan. Lalu hanya karena risih kita mengusirnya atau bahkan melemparnya dengan barang yang bisa dilempar saat itu. Kasusnya begitu sederhana tetapi memiliki arti perenungan yang luar biasa. Jika dilihat dari diri saya, saya memang sedikit terganggu dengan kehadiran kucing ketika saya makan. Namun setelah saya lihat, mereka mungkin belum makan dan kebetulan saya punya makanan sisa. Makanan sisa? sebenarnya dalam agama saya dianjurkan sebaiknya memberi makan hewan selayaknya seperti manusia, entah diletakkan di dalam piring bukan asal lempar. Begitulah kira-kira, tapi terkadang mereka datang di waktu yang tak tepat. Artinya, ketika saya keburu menyantap makanan yang hampir habis dan kenyang untuk dihabiskan, yahh mereka berbaris rapi bak komandan kopral di lapangan.Yaudah saya kasih saja meskipun dalam hati ada rasa iba juga.Tapi selain kejadian itu kadang karena keadaan tidak mendukung ya kadang dipinggirin aja makanan dari saya. Gatau deh dosa atau gak cuma emang niatnya baik sih. So, dari hal sederhana itu mungkin dari sekarang belajar deh mempelakukan kucing bagaimana terutama dalam hal memberi makan.

2. Hewan dan manusia itu punya kesamaan, sama-sama memiliki insting

Dari sebuah sumber yang saya kutip,

Insting hampir sama dengan naluri, dimiliki manusia dan juga hewan. Bedanya, kata insting lebih sering dipakai untuk menunjuk kemampuan khusus tertentu pada hewan atau manusia. Misalnya: Taekwondoin tersebut memiliki insting yang tajam dalam mengantisipasi serangan lawan; Petinju itu memiliki insting bertinju di atas rata-rata lawannya; Pesilat itu mengandalkan insting hewaninya untuk menumbangkan lawannya; Anjing pelacak polisi memiliki insting yang sangat tajam dalam mencari sesuatu; Pada diri manusia ada insting hewani yang harus dikendalikan dengan benar; dan lain-lain.  (sumber:http://universologi.blogspot.co.id/2015/01/pengertian-dan-perbedaan-naluri-insting.html)

Nah, dari penjelasan tersebut, kita bisa menarik kesimpulan kalau ternyata hubungan dengan hewan dan manusia itu begitu dekat. Kita ambil sisi kesamaan itu menjadi sebuah jembatan renungan untuk memperlakukan hewan. Kalaulah misalnya kita datang ke hutan dan ketemu hewan buas di hutan bukannya tidak mungkin mereka menyerang kita tiba-tiba karena mungkin saja keberadaan kita menjadi ancaman buat hewan tersebut atau justru sesuatu yang asing untuk bisa dimakan hiii. Atau dilain kondisi, hewan jinak yang kita perlakukan kasar mereka bukannya tidak mungkin melawan balik. Sebab adanya insting, mereka bisa mengetahui nyawa mereka terancam.Nah kalau selama ini kita mengingat penjelasan seperti itu mungkin semua orang di dunia ini takut memperlakukan hewan yang macam-macam atau bila memang kurang begitu suka dengan hewan tertentu lebih baik ngejauh aja deh. Membiarkan ia hidup dalam habitatnya tanpa harus merusak lingkungannya. Contoh kasus masuknya gajah ke ladang-ladang warga yang terjadi di lampung beberapa tahun lalu. Yaa tentu saja faktor mereka masuk dan merusak ladang warga itu bukan tanpa alasan. Hutan yang selama ini jadi tempat tinggal mereka dibakar oleh manusia yang tidak bertanggung jawab. Lantas siapa yang sudah menyakiti mereka? tentulah manusia. Kita perlu meninjau ulang perilaku seperti itu.

3. Hewan juga memiliki perasaan

Saya pernah melihat video dari salah satu media sosial seekor anak kucing yang berusaha membangunkan induknya yang sudah tewas tertabrak. Kemudian anak kucing tersebut menggoyang-goyangkan tubuh induknya dengan suara yang iba didengar. Gatau sih siapa yang ngerekam tapi yang jelas kejanggalan yang saya lihat disitu “kenapa ga ditolongin malah ngerekam.” Ya walaupun begitu akhirnya video tersebut menjadi perhatian publik karena tersentuh melihat tingkah si anak kucing tersebut. Rasa iba. Seolah-olah saya pun seperti bisa bisa merasakan bagaimana kalau saya adalah seekor anak kucing tersebut. Mereka tak mampu berbicara layaknya manusia tapi hanya dengan tindakan hewan tersebut seolah paham dengan tindakan satu sama lain. Lalu bagaimana dengan kasus hewan lumba-lumba yang sengaja dilatih untuk menghibur penonton di sebuah kolam renang? saya juga miris melihat kejadian ini. Saya lupa alamat link itu tetapi yang saya lihat perlakuan lumba-lumba tak jarang ada yang memperlakukannya tidak wajar. Contoh, di dalam video tersebut, lumba-lumba itu disuntik apaa gitu, agar dia dapat tahan dengan keadaan tertentu. Padahal mungkin suhu alami si lumba-lumba tersebut juga beradaptasi sesuai lingkungannya. yaa dalam hal ini saya kurang paham dengan teori biologi tapi dari melihat video tersebut saya benar-benar melihat kalau manusia yang tidak peka terhadap hewan sehingga mereka semena-mena memperlakukan hewan hanya untuk menuruti keinginan mereka.

Akhir dari point ini adalah hewan tersebut bisa menjadi teman dan bisa juga menjadi lawan. Menjadi teman ketika kita berhasil menjinakkannya, belajar peka dari tindakan yang ia tunjukkan layaknya seperti manusia. Menjadi lawan ketika kita tak mengenalinya dan hewan tersebut sangat buas untuk ditaklukkan.

Jadi kita sebagai manusia senantiasa memilih. Memilih dari setiap hasil tindakan kita terhadap hewan tersebut. Jangan salahkan hewan itu benci kepada kita tapi bukannya tidak mungkin kita justru menjalin kekerabatan layaknya keluarga terhadap mereka.

Thanks to Lusty yang udah ngasi topik ini. Walaupun ga semua hewan saya suka tapi topik ini cukup menyadarkan saya untuk bisa lebih peka lagi terhadap hewan.